A.S. Dharta – Tribunnewswiki.com

0
9


TRIBUNNEWSWIKI.COM – A.S. Dharta atau Adi Sidharta merupakan sastrawan dan pendiri Lekra.

Ia lahir di Cianjur, Jawa Barat pada 7 Maret 1924.

Nama kecilnya ialah Endang Rodji, namun ketika dewasa ia lebih dikenal dengan Adi Sidaharta atau A.S. Dharta.

Selain itu ia juga memiliki beberapa nama pena seperti Kelana Asmara, Klara Akustia, Rodji, Jogaswara dan Barmara Putra.

Sebagai sastrawan, Dharta kerap menuangkan ide-idenya menjadi berbagai tulisan seperti puisi, naskah drama dan cerita pendek. (1)

A.S. Dharta sastrawan Indonesia sekaligus pendiri Lekra.
A.S. Dharta sastrawan Indonesia sekaligus pendiri Lekra. (wangihujan.id)

Baca: Pramoedya Ananta Toer

A.S. Dharta adalah anak angkat dari Okayaman, salah seorang tokoh pergerakan yang dibuang ke Boven Digul.

Sedikit banyak pemikiran dari ayah angkatnya itu turut mempengaruhi perilakunya.

Terlebih ia juga menjadi anak didik Douwes Dekker kala berada di sekolah Nationaal Handele Lallegiun (NHL).

Setelah itu, di masa revolusi ia bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31.

Bersama dengan API ia melakukan berbagai aktivitas seperti keluar masuk hutan dan bergerak dari satu medan pertempuran ke medan pertempuran lain.

Di Menteng 31 itu lah ia mulai kenal dengan Soekarno, para seniman dan sejumlah tokoh politik lainnya.

Baca: Trubus Soedarsono

Selain itu, A.S. Dharta juga pernah menjadi wartawan di Harian Boeroeh di Yogyakarta.

Bahkan ia juga pernah memimpin berbagai serikat buruh seperti Serikat Buruh Kendaraan Bermotor, Serikat Buruh Batik, Serikat Buruh Pelabuhan, termasuk di lembaga induknya, Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI).

Hingga kemudian pada 17 Agustus 1950 ia bersama dengan D.N Aidit, Njoto, dan M.S Ashar mendirikan Lembaga Kebudayan Rakyat (Lekra) yang mana organisasi ini digunakan sebagai wadah para seniman dan juga penulis.

Ketika awal berdiri ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Lekra. (2)

Para anggota Lekra berfoto di depan sekretariat Lekra di Jakarta Pusat.
Para anggota Lekra berfoto di depan sekretariat Lekra di Jakarta Pusat. (Dok. Oey Hay Djoen)

Baca: Bakri Siregar

Peristiwa Madiun 1948 menjadi tonggak bagi A.S. Dharta untuk mengingatkan peran sastrawan dalam revolusi.

Setelah peristiwa itu ia menulis esai yang berjudul “Angkatan 45 Sudah Mampus”.

Esai itu dimuat di majalah Spektra pada 27 Oktober 1949.

Selain itu ia juga menulis “Di Madiunlah dikuburnya Angkatan 45” dan “Matilah ia, pemikul Hari Esok”.

Tulisan-tulisan yang begitu keras dari A.S. Dharta menggemparkan dunia kesusastraan Indonesia.

Karena tulisan-tulisannya itu, beberapa sastrawan lain seperti Sugiarti, Sitor Situmorang, Mochtar Lubis, Anas Maruf, Achdiat Karta Mihardja, M.S. Azhar, dan Asrul Sani pun akhirnya turut mempersoalkan Angkatan 45.

Esai yang dibuat oleh A.S. Dharta itu menjadi lecutan untuk menggerakan konsep yang lebih luas terkait peran sastrawan dan seniman di dalam perubahan masyarakat. (2)

Baca: Njoto

– Saidjah dan Adinda

– Irama Mei

– Rangsang Detik ( kumpulan puisi)

– Antara Bumi dan Langit

– Keringat

– Hidup Kembali (2)

(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here