B.M. Diah – Tribunnewswiki.com

0
12


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Burhanuddin Muhammad Diah atau B.M Diah adalah seorang jurnalis, pejuang kemerdekaan, diplomat dan pengusaha Indonesia.

Ia merupakan salah satu tokoh yang menjadi saksi perumusahan naskah proklamasi di kediaman Laksamana Maeda.

B.M. Diah sangat beperan besar dalam mendokumentasikan detik-detik perkembangan situasi menjelang Proklamasi 1945.

Pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, ia berkarier sebagai jurnalis yang handal.

Semasa itu, ia merekam semangat para pemuda saat melepaskan diri dari kolonialisme.

Tidak hanya itu, ia juga terlibat dalam pejuangan tersebut.

Dari beberapa pengalamannya, B.M Diah dipercaya dan dihormati di kalangan pemuda. Bahkan, ia ditunjuk menjadi ketua Gerakan Angkatan Baru Indonesia.

Lantas, ia dikenal sebagai sosok menghubungkan angkatan muda, yaitu Sukarni dan rekannya, dengan angkatan tua, yaitu Soekarno dan Hatta. (1)  (2) 

Baca: Adam Malik

BM Diah dan naskah asli Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
BM Diah dan naskah asli Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. (Kolase Serambinews.com)

B.M Diah atau Burhanuddin memiliki ayah bernama Mohammad Diah, yang berasal dari Barus, Sumatera Utara.

Ayahnya adalah seorang pegawai pabean di Aceh Barat dan kemudian menjadi penerjemah.

Sedangkan, ibunya bernama Siti Sa’idah, seorang wanita Aceh yang menjadi ibu rumah tangga.

B.M Diah merupakan anak bungsu dari delapan bersaudara, namun ia juga mempunyai dua saudara tiri dari istri kedua ayahnya.

Ayahnya adalah seorang terpandang dan kaya di lingkungannya.

Namun, kehidupannya yang begitu boros, sehingga B.M Diah tidak bisa menikmati kekayaan ayahnya.

Ayahnya meninggal dunia setelah seminggu dari kelahiran B.M Diah.

Sepeninggalan ayahnya, Ibunya kemudian mengambil alih untuk menjadi tulang punggung keluarga. Untuk itu ia terjun ke dunia usaha berjualan emas, intan, dan pakaian.

Namun delapan tahun kemudian Siti Sa’idah pun berpulang, sehingga B.M Diah diasuh oleh kakak perempuannya bernama Siti Hafsyah.

B.M Diah  belajar di HIS, kemudian melanjutkan ke Taman Siswa di Medan.

Keputusan ini diambilnya karena ia tidak mau belajar di bawah asuhan guru-guru Belanda. (1)

Baca: Tan Malaka

  • Penyelamatan Teks Proklamasi

Naskah Proklamasi ditulis pada selembar kertas berwarna putih dari blocknote.

Kertas tersebut berukuran panjang 25,8 sentimeter, lebar 21,3 sentimeter dan tebal 0,5 milimeter.

Pada hari Jum’at 17 Agustus 1945, naskah Proklamasi ditulis oleh Soekarno pada dini hari di rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jl Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat.

Ada tiga orang yang terlibat merumuskan naskah Proklamasi yaitu Soekarno, Moh Hatta, dan Achmad Soebardjo.

Paragraf pertama naskah Proklamasi adalah usulan Achmad Soebardjo.

Sedangkan, paragraf kedua naskah proklamasi adalah usulah Moh Hatta.

Selanjutnya naskah proklamasi dimintakan persetujuan sidang yang seluruhnya berjumlah sekitar 40 orang.

Segera setelah teks proklamasi disusun, Sayuti Melik mengetik teks tersebut.

Ada beberapa perubahan yang dibuat oleh Sayuti Melik saat mengetik teks proklamasi. yakni:

“Tempoh yang diubah menjadi tempo.

Wakil-wakil bangsa Indonesia menjadi atas nama bangsa Indonesia.

Tambahan nama Soekarno-Hatta.

Djakarta, 17-8-05 menjadi Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05.”

Naskah Proklamasi ini sempat dibuang di keranjang sampah.

Meskipun begitu, naskah tersebut telah diamankan oleh B.M Diah sebagai dokumen pribadi setelah rapat perumusan naskah proklamasi berakhir pada 17 Agustus 1945.

B.M Diah bergegas menuju kantor stasiun radio untuk menyiarkan kabar berita tersebut.

Di belakang teks tersebut diberi catatan tulisan tangan BM Diah:

“Berita istimewa, berita istimewa. Pada hari ini, tanggal 17 bulan 8, 1945 di Djakarta telah dioemoemkan proklamasi kemerdekaan Indonesia jang boenjinya: Proklamasi, Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan, kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan dllnja, diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnya. Djakarta, 17-8-1945″.

Sebelum diserahkan ke pemerintah Republik Indonesia pada 1992, B.M Dian menyimpan teks itu di dalam kantongnya selama 40 tahun.

Bahkan, B.M Diah membawa kertas tersebut kemana-mana saat dia berdinas sebagai Duta Besar di Cekoslovakia, Inggris, dan Thailand pada tahun 1959-1968.

B.M Diah kemudian menyerahkan naskah proklamasi tulisan Soekarno ini kepada Soeharto.

Pada tahun 1995, naskah ali teks proklamasi disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia hingga saat ini. (3) 

Baca: Ahmad Yani

(Tribunnewswiki.com/ Husna)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here