Ekolalia (Echolalia) – Tribunnewswiki.com

0
6


TRIBUNNEWSWIKI.COMEkolalia merupakan suatu kondisi medis yang ditandai dengan pengulangan suara dan kata yang didengar oleh penderita.

Pasien dengan ekolalia (echolalia) kesulitan berkomunikasi dengan efektif lantaran tidak mampu mengekspresikan pikiran mereka.

Contohnya, pasien hanya mampu mengulangi pertanyaan yang diberikan daripada menjawabnya.

Ekolalia umum terjadi pada masa perkembangan bahasa anak, dan sering ditemukan pada balita yang sedang belajar berbicara.

Saat berusia 2 tahun, anak-anak akan mulai mencampur celotehan dengan ulangan dari kata-kata yang mereka dengar.

Lalu menginjak usia 3 tahun, kebanyakan ekolalia sudah sangat minimal.

Ekolalia lebih umum diderita pada anak dengan autisme atau keterlambatan perkembangan, utamanya keterlambatan bicara.

ilustrasi anak autis
ilustrasi anak autis (TribunPekanbaru)

Dengan mengidentifikasi penyebab ekolalia, dokter akan lebih mudah merencanakan terapi yang tepat.

Selain itu, dilakukannya konsultasi dengan terapis wicara juga dapat membantu penyembuhan. (1)

Baca: Autisme

Baca: Depresi Postpartum

Penyebab seseorang mengalami Ekolalia yaitu karena adanya kerusakan atau gangguan pada otak, seperti kecelakaan atau penyakit pada otak.

Gangguan ini juga dapat muncul pada seseorang yang mengalami gangguan cemas dan merasa tertekan.

Gejala utama ekolalia ialah pengulangan kata atau suara yang didengar oleh pasien yang muncul ketika orang lain sedang berbicara atau setelah pembicaraan selesai.

Namun, dapat juga muncul dalam satu jam atau satu hari setelah mendengarnya. (2)

Gejala ekolalia lainnya yaang dapat dialami penderita, berupa:

• Depresi

• Lebih banyak diam

• Kesulitan dalam percakapan

• Mudah tersinggung, terutama ketika ditanya. (1)

terdapat dua kategori ekolalia yang umumnya dialami oleh seseorang.

Namun, keduanya sangat sulit dikenali sebelum seseorang mengenal pasien dan tahu bagaimana kebiasaan pasien ketika berkomunikasi.

Berikut adalah dua jenis ekolalia secara umum:

Echolalia fungsional (interaktif)

Pasien dengan ekolalia interaktif masih bisa mengikuti percakapan dengan orang lain, meski kata-kata yang diucapkan sering kali tidak sempurna.

Bahkan sering kali, ia mengungkapkan pertanyaan pada dirinya sendiri, padahal ia ingin meminta sesuatu.

Semua kata yang diucapkan kemungkinan adalah kata-kata yang sering ia dengar.

Echolalia non-interaktif

Penderita dengan echolalia non-interaktif sering mengungkapkan sesuatu yang benar-benar tidak berhubungan dengan situasi yang sedang dihadapi.

Pasien jenis ini juga sering kali mengulang pertanyaan berkali-kali sebelum menjawabnya.

Mereka cenderung mencetuskan kata-kata saat ia sedang melakukan sesuatu. (2)

Faktor risiko ekolalia yang paling utama yaitu autism spectrum disorder (ASD) atau yang lebih dikenal autisme.

Selain pada anak autis, ekolalia juga dapat ditemukan pada pasien dengan kondisi seperti berikut:

• Afasia

• Penyakit autoimun

• Cedera kepala tertutup

• Kebutaan kongenital (dari lahir)

• Cortico-basal degeneration

• Delirium

• Demensia

• Ensefalitis

• Primary familial brain calcification

• Sindrom Tourette

• Disabilitas intelektual

• Keterlambatan bicara

• Fenomena latah

• Penyakit Pick

• Progressive supranuclear palsy

• Skizofrenia

• Stroke

• Stres konfusional

• Status postepileptikus. (1)

Baca: Afasia

Baca: Skizofrenia

• Terapi bicara

Pasien ekolia akan mengikuti terapi bicara guna belajar mengatakan apa yang mereka pikirkan.

Latihan bicara ini disebut dengan “isyarat-jeda-titik”, yakni ahli terapis akan mengajukan suatu pertanyaan, anak akan diberi waktu singkat untuk menanggapi pertanyaan, kemudian ia harus menyatakan jawabannya dengan benar.

• Terapi obat

Gejala ekolia akan semakin parah saat anak mengalami stres atau cemas.

Makad ari itu, dokter umumnya akan meresepkan obat antidepresan atau antikecemasan agar anak menjadi lebih tenang.

• Perawatan di rumah

Orang di sekitar pasien dapat membantu meningkatkan kemampuan pasein dalam berkomunikasi.

Orangtua mungkin harus mengikuti pelatihan terlebih dulu agar lebih mengerti bagaimana cara terbaik untuk berkomunikasi dengan pasien. (2)

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here