Etnografer: Butuh 10 Tahun untuk Adaptasi Hadapi Pandemi, Masyarakat Harus Kuat Mental

0
16



Laporan Wartawan Tribun Network, Willy Widianto 
 
 
 TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tak terbantahkan, pandemi covid-19 saat ini mengubah perilaku masyarakat dan peradaban manusia.

Perubahan perilaku dan peradaban manusia ini tentu saja membuat semua pihak kaget dan mengalami ‘jet lag’ alias gegar budaya.

Setidaknya membutuhkan waktu 10 tahun bagi umat manusia untuk beradaptasi dengan perilaku dan peradaban baru seperti sekarang ini.

“Minimal 10 tahun ini untuk pandemi seperti sekarang ini. Tapi kita enggak bisa menjamin apalagi kita sangat tergantung kepada vaksinasi, dengan targer pencapaian herd immunity. Penduduk Indonesia saja ada 270 juta, sementara kita vaksin cuma punya berapa, kita tunggu herd immunity tercapai,” kata Etnografer Evi Aryati Arbay saat berbincang dengan Tribun, Senin(20/9/2021).

Namun, ujar Evi, pemerintah memang tidak hanya mengandalkan program vaksinasi agar tercipta herd immunity. Ada beberapa skenario salah satunya bagaimana menurunkan status pandemi menjadi endemi.

Baca juga: Masih Banyak Kasus Meninggal, Pemerintah Perluas Jangkauan Vaksinasi ke Lansia

“Mungkin itu jalan tengahnya yang mana vaksin dulu dikedepankan,” ujar Evi. Pandemi covid-19 seperti sekarang ini lanjut Evi memang efeknya sangat luar biasa.

Baca juga: Adaptasi Pandemi, Bisnis UMKM Disarankan Segera Bermigrasi ke Platform Digital

Jadi kata dia tidak hanya berdampak kepada kunjungan wisata ekonomi dan lain-lain, tetapi juga kepada peradaban manusia.

Karena itu lanjut dia masyarakat harus kuat mental menghadapi perubahan peradaban manusia mendadak seperti sekarang ini.

Baca juga: 3 Strategi Kemenparekraf Bangkit saat Pandemi, Sandiaga Uno: Inovasi, Adaptasi, dan Kolaborasi

“Kalau bicara peradaban dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern, penggunaan tools teknologi lebih dominan daripada sebelummya,” ungkapnya.

“Interaksi antar mamusia mesti bisa ketemu dengan virtual life, perlu adaptasi tools digital atau virtual, mau enggak mau dipaksa menggunakannya, hidup seperti itu sekarang juga ada real life and virtual life.”

“Saya yakin ini berpengaruh dan melelahkan juga. Karna terlalu lama hidup virtual lebih capai daripada kehidupan riil. Mental harus kuat,” ujar Evi.

Etnografer yang mendalami studi tentang masyarakat Papua ini juga menjelaskan saat ini juga ada gap jauh antara kalangan muda, remaja dengan kalangan tua.

Mereka kalangan muda mungkin bisa beradaptasi dengan kondisi seperti sekarang ini dimana seluruh kegiatan dilakukan dengan teknologi digital.

“Untungnya kalau anak muda bisa beradaptasi dengan teknologi mungkin orangtua ada gap. Indonesia rasanya cukup bisa mengejar meski terseok-seok karena secara infrastruktur belum memadai, beberapa jaringan suka down sementara. Buat orang meskipun efek kita terlalu tergantung karena mesti memikirkan,” ujarnya.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here