Fenomena Revenge Travel – Tribunnewswiki.com

0
4


TRIBUNNEWSWIKI.COMRevenge travel adalah fenomena masyarakat melakukan perjalanan atau berkunjung ke suatu destinasi wisata setelah menjalani isolasi.

Istilah ini dapat dikatakan sebagai ajang balas dendam dengan berkunjung ke tempat hiburan maupun wisata.

Semenjak adanya kasus Covid-19, kegiatan masyarakat dibatasi oleh kebijakan yang  telah diberlakukan.

Hal ini membuat banyak orang merasa jenuh, bahkan dapat memengaruhi kondisi psikologis hingga menyebabkan stes.

Ketika ada kesempatan, masyarakat nekat berpergian ke tempat wisata.

Padahal, hal tersebut dapat menyebabkan kasus Covid-19 meningkat lagi.

Melalui menurut studi yang dilakukan oleh Booking.com, terdapat 72 persen orang yang merasa bahwa berpergian tahun ini lebih penting daripada sebelum pandemi.

Situs perjalanan MakeMyTrip juga melihat peningkatan pemesanan hotel hampir 200 persen sejak pembatasan mulai dilonggarkan. (1)(2)

Ilustrasi liburan ke pantai bersama keluarga
Ilustrasi liburan ke pantai bersama keluarga (Pixabay/Pexels)

Baca: Hiperendemi

Terdapat beberapa faktor yang membuat orang melakukan revenge travel.

Psikolog Gracia Ivonika mengungkapkan alasan banyak orang melakukan fenomena tersebut.

-Lelah mental

Umumnya, revenge travel terjadi karena adanya perasaan lelah, bosan, stes, dan isu psikologis lain yang timbul akibat  keterbatasan selama pandemi.

Kondisi ini juga dapat dirasakan ketika bekerja secara berlebihan.

Sejumlah kondisi tersebut dapat menghambat individu menghilangkan rasa jenuhnya.

Individu dapat merasa stres dan frustrasi ketika dorongan untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya tidak terpenuhi.

Mereka dapat menjadi impulsif jika tidak dapat mengontrol diri dengan baik.

-Ketidakmampuan mencari hiburan lain

Tiap orang memiliki cara berbeda dalam memenuhi kebutuhan psikologis mereka.

Saat tidak mampu mencari alternatif hiburan lain selain travelling, maka untuk memenuhi hasrat psikologisnya, mereka melakukan revenge travel.

Padahal, banyak hal yang dapat dilakukan meskipun di rumah dengan melakukan hobi baru, berbincang dengan teman secara virtual dan lainnya.

-Percaya diri setelah vaksinasi

Berdasarkan Pandemic Talks, alasan lain mengapa orang melakukan revenge travel adalah merasa percaya diri setelah melakukan vaksinasi Covid-19.

Vaksinasi membuat banyak orang lebih percaya diri akan terlindungi selama berpergian.

Padahal,  meski seseorang sudah vaksinasi, peluang untuk terinfeksi virus corona tetap ada, terutama untuk mereka yang tidak mematuhi protokol kesehatan.

Bukan hanya itu, belum semua orang mendapat vaksin. (1)

Baca: Hipertermia

Fenomena revenge travel ini dapat memberikan dampak negatif baik diri sendiri maupun orang lain.

Saat seseorang berpergian, peluang untuk terinfeksi virus corona masih ada.

Infeksi virus corona dapat menyebabkan demam, kelelahan, batuk kering, diare, sakit tenggorokan, sakit kepala, gangguan indra penciuman, hingga sesak nafas.

Kondisi inilah yang dapat mengalangi kegiatan sehari-hari, termasuk bekerja.

Selain merugikan diri sendiri, fenomena ini juga dapat membahayakan orang lain.

Hal tersebut dikarenakan adanya kemungkinan individu tersebut membawa virus dari atau ke destinasi wisata dan membuat penyebaran virus lebih lanjut akan terjadi.

Bukan hanya itu, mereka yang nekat melakukan revenge travel bisa membawa virus kembali ke rumah dan hal itu dapat membuat keluarganya terinfeksi Covid-19.

Fenomena ini juga dapat menimbulkan norma sosial baru, terutama saat membagikan foto liburan ke media sosial.

Untuk orang yang tidak memiliki pengetahuan secara menyeluruh menganai pandemi, hal tersebut dapat menjadi pembenaran.

Mereka bisa berpikir bahwa kondisi serta situasi aman terkendali seperti sebelum pandemi sehingga bebas berpergian ke mana saja.

Revenge travel juga akan membuat kasus Covid-19 di Indonesia akan meningkat. (1)

Baca: Anosmia

(TribunnewsWiki.com/Atika)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here