Herbal Pembentuk Imunitas Tubuh⁣

0
94
Taufan Hariyadi, Jurnalis Televisi / Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Satya Negara Indonesia. Jakarta⁣

⁣Pandemi meningkatkan gairah masyarakat mengkonsumsi produk herbal. Rempah-⁣
rempah olahan seperti jamu kian populer. Permintaan di pasaran meningkat. Kesadaran masyarakat akan khasiat produk herbal terus tumbuh. Jahe, kunyit, temulawak, termasuk rempah-rempah yang diburu masyarakat. Stok di pasaran bahkan sempat menurun, harga pun naik. Masyarakat membutuhkan minuman herbal untuk menjaga stamina tubuhnya. Kondisi ini terjadi seiring pandemi yang belum berakhir.⁣

Presiden Joko Widodo termasuk yang rutin mengkonsumsi jamu. Dari laman⁣
setkab.go.id, Presiden mengkonsumsi jamu hingga tiga kali sehari di masa pandemi, termasuk membaginya kepada para tamu. ”Sekarang karena ada Korona, saya minumnya pagi, siang, malam. Tamu-tamu saya kalau pagi, siang dan malam juga saya beri minuman itu. Bukan teh tapi saya ganti dengan temulawak, jahe, serai, kunyit campur jadi satu. Sudah,” ujarnya. 1)⁣

Rempah-rempah dan tumbuhan telah digunakan selama berabad-abad baik untuk⁣
kuliner maupun pengobatan. Penggunaaannya biasanya dilakukan sebagai bumbu untuk meningkatkan rasa dan aroma makanan. Yang paling sederhana, rempah-rempah digunakan sebagai minuman herbal atau jamu. Bentuk yang terakhir ini telah ada dan dikonsumsi sejak nusantara masih berbentuk kerajaan. Ada dimensi kesehatan dan budaya di balik minuman herbal yang terwarisi hingga kini. Semakin modern masyarakat, mengkonsumsi herbal tidak hilang.⁣

Dalam buku Some aspects of toxic contaminants in herbal medicines (2003), K. Chan⁣
menulis, 70-80% pengobatan dunia modern dalam perawatan kesehatan bersumber pada tanaman herbal. Shrestha and Dhillon dalam Medicinal plant diversity and use in the highlands of Dolakha district. Nepal (2003) menulis, 60% populasi dunia bergantung pada tumbuhan herbal untuk manfaat medis mereka. Pandemi membuktikan hal itu.⁣

Di lingkungan kedokteran dunia, sejumlah penelitian tentang kandungan dan khasiat⁣
produk herbal terus dilakukan. Dalam penelitian yang berjudul Medicinal uses of spices used in our traditional culture: World wide, terbitan Journal of Medicinal Plants Studies tahun 2018 menyebutkan, Semua rempah-rempah memiliki beragam fungsi biologis dan sinergisnya yang melindungi tubuh manusia. bila digunakan dalam jumlah yang lebih besar, rempah-rempah juga dapat menyumbangkan sejumlah besar mineral dan mikronutrien lainnya, termasuk zat besi, magnesium, kalsium dan banyak lainnya. 2)⁣

Di Mesir, Samah El-Sayed dan Ahmed M.Youssef dari pusat penelitian nasional, meneliti kandungan lebih dari 40 jenis tanaman herbal, termasuk jahe, kayumanis, dan cengkeh. Tumbuhan memiliki sifat terapeutik seperti aktivitas antioksidan, anti inflamasi, antidiabetes, antihipertensi, dan antimikroba. Dalam judul penelitiannya, Potential application of herbs and spices and their effects in functional dairy product, terbitan Helyon celpres 2019. Hasilnya, komponen antioksidan, antimikroba, dan antikanker yang ada dalam tumbuhan herbal dapat meningkatkan kesehatan dan status medis manusia. 3)⁣

Sebuah penelitian yang berjudul, Medicinal herbs with anti-depressant effects, terbitan Journal of Herbmed Pharmacology 2020. Tanaman herbal seperti kunyit, ginkgo, bunga kamomil, valerian, Lavender, Echium amoenum dan Rhodiola rosea L mampu memperbaiki gejala depresi ringan, sedang atau berat. Hasil uji klinis menyebutkan, tanaman di atas menunjukkan efek antidepresan dan memiliki efek samping yang lebih sedikit daripada obat sintetis. Penelitian ini didorong dari data kesehatan dunia bahwa hanya sekitar 30% pasien penyakit depresi yang mampu menyerap obat secara memadai, sisanya tak mengalami kesembuhan total. 4)⁣

Kebangkitan Herbal⁣
Sederet penelitian ilmiah dunia memperlihatkan, minuman herbal atau jamu bukanlah⁣
minuman “kelas dua”. Keberadaan tanaman herbal dan rempah-rempah berbagai jenis⁣
melimpah ruah di Indonesia. Mencarinya pun tak sulit, mengelolah rempah-rempah menjadi jamu terbilang mudah. Pemanfaatannya sudah diwarisi secara turun temurun. Bangsa eropa, utamanya belanda bahkan sudah berburu rempah-rempah asli Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Namun sejak Indonesia merdeka, pamor jamu atau minuman herbal terlihat naik turun.⁣

Boleh jadi minum jamu masih kalah pamor dengan minum kopi. Padahal jamu dan kopi⁣
adalah minuman asli dari indonesia. Berada di wilayah tropis, Indonesia adalah surganya rempah dan kopi. Baru belakangan ini masyarakat kian sadar akan khasiat jamu bagi kesehatan. Sebagian memilih memproduksi jamu sendiri, sebagai lainnya membeli jamu dalam kemasan, atau tinggal seduh. Pemanfaatan tanaman herbal dan rempah untuk minuman jamu ini harus terus didorong.⁣

Informasi tentang herbal atau jamu kepada masyarakat masih kalah meluas dan masif⁣
dibandingkan informasi tentang kopi. Keberadaan kedai-kedai jamu sangat sedikit⁣
dibandingkan tempat-tempat ngopi yang mudah diakses masyarakat dan instagramable. Kemasan jamu tinggal seduh termasuk kurang menarik dibanding kemasan-kemasan kopi. Pandemi adalah momentum kebangkitan jamu di dalam negeri, seiring banyak penelitian medis tentang khasiat herbal bagi tubuh.⁣

Jamu sebagai gaya Hidup⁣
Seperti ngopi, jamu harus bisa menjadi gaya hidup di masyarakat. Peluang disektor ini⁣
sangat besar. Marketing mix ala media sosial memungkinkan jamu untuk naik kelas. Hal ini tentu membutuhkan banyak pendekatan. Pertama, pemerintah melalui kementerian atau dinas UMKM bersinergi dengan asosiasi jamu di daerah-daerah penghasil rempah dan tanaman herbal. Kedua pihak membuat semacam road map bagaimana pasokan rempah tersedia dan bisa di produksi dari hulu hingga hilir.⁣

Kedua, Pemerintah, UMKM dan produsen herbal bersinergi menggerakan dan⁣
menggalakan lagi budaya minum jamu. Selama ini hari jamu yang diperingati setiap 27 Mei yang dicanangkan Presiden Susilo bambang Yudhoyono pada 27 Mei 2008, eksistensinya memudar. Gerakan hari jamu, gaungnya tidak sekeras hari kopi sedunia. Gerakan ini tidak dilakukan secara masif. Promosi perayaan ini cenderung melemah. Pemerintah saat ini sebenarnya berpeluang meningkatkan eksistensi itu.⁣

Ketiga, Produsen-produsen jamu modern didorong untuk melakukan terobosan⁣
penetrasi produk herbalnya. Salah satunya membuat kafe-kafe jamu. Seperti tempat ngopi ala anak muda, kafe-kamu jamu bisa jadi tempat nongkrong-nongkrong yang didesain kekinian untuk bercengkrama sambil minum jamu. Memperlihatkan cara membuat jamu bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Hal ini akan mendorong kafe-kafe jamu berdiri di daerah-daerah wisata utamanya daerah penghasil rempah dan herbal.⁣

Perubahan sosial masyarakat dalam minum herbal belakangan harus bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan popularitas herbal. Kalau ada istilah “ngopi yuk” yang sudah populer di masyarakat, maka “njamu yuk” harus jadi tren budaya baru selanjutnya di masyarakat. Persoalannya tinggal bagaimana mengkomunikasikan herbal sebagai imunitas tubuh ini kepada masyarakat.⁣

Penulis : Taufan Hariyadi, Jurnalis Televisi / Pengajar Ilmu Komunikasi Universitas Satya Negara Indonesia Jakarta⁣

Rubrik Opini merupakan tulisan kiriman dari warganet. Isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.⁣

Untuk kiriman tulisan bisa dikirim ke email : aboutsemarangtv@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here