Joesoef Ronodipoero – Tribunnewswiki.com

0
12


TRIBUNNEWSWIKI.COM- Joesoef Ronodipoero atau Moehammad Joesoef Ronodipoero adalah pahlawan Indonesia yang menyiarkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia.

Ia juga pendiri Radio Republik Indonesia yang didirikan pada 11 September 1945.

Selain itu, ia pernah menjadi Duta Besar Luar Biasa Indonesia di Uruguay, Argentina, dan Chili.

Joesoef Ronodipoero lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada 30 September 1919.

Istrinya bernama Siti Fatima Rassat dan dikaruniai tiga anak, bernama Dharmawan, Irawan, dan Fatmi.

Joesoef Ronodipoero meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto, 27 Januari 2008.

Ia menderita penyakit komplikasi yang diakibatkan kebiasaanya sebagai perokok berat.

Jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, tanggal 28 Januari. (1) 

Baca: Jusuf Kunto

Yusuf Ronodipuro 1
Yusuf Ronodipuro bersama istri dan anak-anak

Sejak muda, Joesoef Ronodipoero memiliki ketertarikan kepada dunia jurnalistik, khususnya di bidang radio.

Pada masanya, radio merupakan media informasi yang sangat diandalkan.

Dengan ketekunannya untuk menggeluti jurnalistik, ia diterima di Hoso Kyoku sebagai wartawan.

Hoso Kyoku merupakan radio militer Jepang, pemiliknya bernama Tomo Bachi, seorang perwira balatentara Jepang dan diperintah langsung oleh pemerintah Dai Nippon.

Stasiun radio ini memiliki cabang kantor bernama Shodanso yang terdapat di beberapa kabupaten.

Semua siaran radio Hoso Kyoku diawasi secara langsung oleh balatentara, sehingga rakyat Indonesia tidak bisa mendengarkan siaran radio luar negeri.

Radio Hoso Kyoku hanya boleh menyiarkan pemberitaan kepentingan militer Jepang. (2) 

Baca: Tan Malaka

Pada 6 Agustus 1945 dan 9 Agustus 1945, Jepang menyerah pada tentara sekutu karena dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat.

Namun, berita tersebut belum sampai kepada rakyat Indonesia karena jumlah pendengar radio sangat jarang.

Mochtar Loebis dan Joesoef pun tahu bahwa tentara Jepang telah menyerah kepada sekutu.

Sejak itu, Joesoef bergabung dengan barisan pemuda “Menteng 31” di Jakarta yang dipimpin oleh Soekarni.

Dalam barisan itu terdiri dari para pejuang Indonesia, yang telah mendengar kabar penyerahan tentara Jepang dari Adam Malik, wartawan Domei.

Soekarno pun mendorong para pemuda untuk mengambil alih radio Jepang.

Joesoef Ronodipoero yang bekerja di radio Hoso Kyoku ini memberi tahu bagaimana cara merebut stasiun tersebut yang selalu dijaga ketat oleh tentara Jepang.

Pada 10 September 1945, Joesoef mengumpulkan pimpinan radio dari berbagai daerah.

Perkumpulan ini bertujuan untuk mendirikan stasiun nasional guna menyiarkan semangat para pejuangan.

Namun, tidak mudah untuk merebut radio Hoso Kyoku.

Pihak Jepang pun menolak karena menilai semua asetnya di Indonesia wajb diserahkan kepada sekutu sebagai pemenang perang.

Tak sampai disitu, Joesoef Ronodipoero bersama para pejuang Indonesia melakukan perlawanan pada 11 September 1949.

Pada akhirnya, radio Hoso Kyoku dan kantor berita Domei berhasil menjadi hak Indonesia.

Lanjutnya, Hoso Kyoku lantas diberi nama Radio Republik Indonesia (RRI), sementara Domei menjadi kantor berita Antara yang dipimpin oleh Adam Malik.

Tanggal 11 September 1949 kemudian ditetapkan sebagai Hari Lahir RRI, dan Joesoef dipercaya untuk memimpinnya. Jargon legendaris “Sekali di Udara Tetap di Udara” yang melecut semangat perjuangan konon dicetuskan Joesoef Ronodipoero. (2) 

Baca: Achmad Soebardjo

(Tribunnewswiki.com/ Husna)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here