Jusuf Kunto – Tribunnewswiki.com

0
6


TRIBUNNEWSWIKI.COM- Jusuf Kunto adalah tokoh golongan muda peristiwa Rengasdengklok yang menculik Soekarno dan Hatta tanggal 16 Agustus 1945.

Jusuf Kunto lahir di Salatiga, 8 Agustus 1921.

Dulu, ia memiliki nama asli Kunto. Namun, pada tahun 1937, namanya berubah menjadi Jusuf Kunto yang diambil dari nama kakak sepupunya, Mr. Jusuf Suondo.

Ayahnya merupakan mantri kesehatan di tambang timah Bangka.

Jusuf Kunto menempuh pendidikannya di Hollandsch Chinesche Scuool, yang merupakan sekolah khusus untuk keturunan Tionghoa, kemudian melanjutkan di Honeegere Bugerschool (HBS) Semarang pada 1933. (1) 

Baca: Sukarni Kartodiwirjo

tokoh rengasdengklok
Tokoh peristiwa Rengasdengklok

Pada 16 Agustus 1945, penculikan Soekarno dan Hatta adalah puncak pertentangan golongan tua dan muda dalam memproklamasikan kemerdekaan Indoesia.

Ia bersama Sukarni dan beberpa anggota PETA menjemput Soekarno dan Hatta untuk dibawa ke Rengasdengklok

Sejak kejadian itu, akhirnya golongan muda dan tua sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Munculnya golongan muda dan tua ini merupakan strategi untuk memudahkan memahami peristiwa proklamasi.

Kedua golongan ini sepakat bahwa kemerdekaan Indonesia harus segera diproklamasikan.

Golongan tua pun berpendapat bahwa proklamasi dapat diwujudkan tanpa pertumpahan darah, yang mengikuti langkah-langkah yang dipersiapkan sejak pembentukan BPUPKI dan PKKI.

Namun, golongan muda ingin segera melakukan proklamasi kemerdekaan, meskipun harus terjadi pertumpahan darah. (2) 

Baca: Tan Malaka

Kunto nyaris menikam polisi Belanda dalam sebuah pertikaian.

Pada saat itu ia mengubah namanya menjadi Jusuf Kunto. Nama Jusuf itu diambil dari nama depan kakak sepupunya yang bernama Mr Jusuf Suwondo.

Ia pun menjadi buronan Politieke Inlichting Dienst (PID/polisi dinas keamanan negara).

Sejak itu, Kunto diselundupkan ke Jepang hingga menyelesaikan pendidikan politeknik di Waseda University di Tokyo, yang betepatan pada persiapan Jepang memasuki Perang Asia Timur Raya.

Jusuf Kunto merupakan rombangan pemuda Jepang terakhir yang direkrut menjadi pilot tempur Jepang di California, Amerika Serikat.

Ia adalah pilot tempur pertama orang Indonesia.

Selain itu, ia juga bergabung dalam salah satu skuadron Jepang dan menyerang Kepulauan Hawaii serta beberapa pulau di Pasifik.

Ia juga melakukan pengintaian dan pengeboman di Port Moresbi (Papua Timur). Ketika terlibat dogfight (pertempuran udara) di Morotai dan Halmahera, pesawatnya tertembak jatuh.

Kapten Penerbang Jusuf Kunto terluka parah dan dibawa ke Jakarta untuk dirawat di RS Dr. Cipto Mangunkusumo.

Dari sanalah, ia menjalin hubungan baik dengan para pejuang dan mahasiswa Ika Daigaku, Fakultas Kedokteran.

Prof. Dr. Murtiningrum merupakan mahasiswa Ika Daigaku yang disunting menjadi istri Jusuf Kunto pada 1942. (3) 

Baca: Ahmad Yani

Jusuf Kunto adalah  desersi  tentara Jepang.

Bahkan, setelah kemerdekaan RI, Jusuf Kunto bergabung ke Badan Keamanan Rakyat (BKP).

Ia mengawali karier militernya dengan menjabat Staf Oemoem I (SO-I) di Markas Besar Tentara (MBT) di Benteng Vredenburg, Yogjakarta. Saat Agresi Militer Belanda terjadi, ia memindahkan markasnya dari Jogja ke Pakem.

Mayor Jusuf Kunto meninggal dunia pada 2 Januari 1949, saat berusia 28 tahun.

Sebelumnya, ia mengalami radang paru-paru tanpa adanya bantuan dokter dan obat.

Jusuf Kunto disemayamkan di perkuburan Badran, dekat kuburan Cina di sebelah barat Stasiun Tugu, Jogjakarta. (3)

Baca: Achmad Soebardjo

(Tribunnewswiki.com/ Husna)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here