Kasus Melandai, Pengamat Kebijakan Publik Sebut KPC PEN Berhasil Kendalikan Covid-19

0
12



Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah menilai Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) telah berhasil mengendalikan Covid-19.

Trubus menerangkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) telah membuat landai angka penderita Covid-19.

Komite yang dipimpin Airlangga Hartarto tersebut, dinilai berhasil dalam mengendalikan Covid-19.

“Kalau saya melihat apa yang dilakukan pemerintah sudah cukup baik. Artinya angka Covid-19 sudah menurun. Yang penting kan pengendalian Covid-19. Semua kebijakan PPKM, PSBB, sudah berhasil,” ujar Trubus, Kamis (16/9).

Selain mengendalikan Covid-19, kata Trubus, pemerintah juga mulai cepat memberikan vaksinasi kepada masyarakat Indonesia.

Trubus pun menyinggung riset yang menyebutkan vaksinasi yang dilakukan di Indonesia untuk mencapai herd immunity baru rampung 10 tahun yang akan datang.

Nyatanya target penerima vaksinasi meningkat dari 1-2 juta dosis menjadi 2-3,3 juta per hari.

Peningkatan target vaksinasi dilakukan agar 280 juta warga Indonesia sudah mendapat vaksin Covid-19 di akhir tahun 2021.

Baca juga: Presiden Jokowi Tinjau Grab Vaccine Center Yogyakarta, Pusat Vaksinasi Ramah Penyandang Disabilitas

“Banyak analisis dari luar itu atau orang Indonesia bekerja sama dengan luar menjelek-jelekan Indonesia, prediksinya meleset semua,” ujar Trubus.

“Buktinya kita bisa berhasil dengan cara sendiri. Banyak pakar-pakar di kita kerja sama dengan pihak luar, membuat prediksi seolah-olah Indonesia tidak punya kemampuan menangani Covid-19,” sambungnya.

Sedangkan terkait rencana Pemerintah bersiap ubah status pandemi Covid-19 jadi endemik, Trubus menyarankan pentingnya KPC PEN cepat dalam menangani booster vaksin.

Penting juga, dalam pemulihan ekonomi menggenjot sektor-sektor usaha, terutama UMKM.

“Karena menyerap banyak tenaga kerja. Termasuk industri pariwisata, jasa, manufaktur. Sektor jasa, seperti hotel, tempat wisata banyak menyerap tenaga kerja, karena itu perlu digenjot. Termasuk sektor berbasis digital,” imbuh Trubus.



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here