Keraton Yogyakarta – Tribunnewswiki.com

0
3


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Keraton Yogyakarta atau Keraton Ngayogyakarta Hadinigrat adalah istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang berlokasi di Kota Yogyakarta.

Pada tahun 1755, keraton ini didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana I, yang dijadikan sebagai istana keraton.

Keraton ini baru berdiri ketika perpecahan Mataram Islam dengan adanya Perjanjian Giyanti.

Keraton ini adalah pecahan dari Keraton Surakarta Hadiningrat dari Kesunanan Surakarta atau Kerajaan Surakarta.

Sehingga dinasti Mataram diteruskan oleh 2 Kerajaan yakni Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta.

Keraton Yogyakarta miliki luas wilayah mencapai 184 hektar.

Area disekitar keraton meliputi, seluruh area di dalam benteng Baluwarti, alun-alun Lor, alun-alun Kidul, gapura Gladak, dan kompleks Masjid Gedhe Yogyakarta.

Sedangkan, luas inti keraton mencapai 13 hektar. (1) 

Baca: Keraton Kanoman

Pojok Beteng Lor Wetan, bagian dari Benteng Baluwerti Keraton Yogyakarta yang sudah diperbarui sejak 208 tahun berselang.
Pojok Beteng Lor Wetan, bagian dari Benteng Baluwerti Keraton Yogyakarta yang sudah diperbarui sejak 208 tahun berselang. 

Keraton Yogyakarta berdiri sejak terbaginya Kerajaan Mataram Islam pada 1755 lewat Perjanjian Giyanti.

Dalam perjanjian tersebut dibagi menjadi dua kekuasaan Kesultanan Mataram, yaitu Nagari Kasultanan Ngayogyakarta untuk Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Nagari Kasunanan Surakarta diserahkan kepada Pakubuwono III.

Kemudian, Sultan Hamengku Buwono I membangun Keraton Yogyakarta pada 9 Oktober 1755.

Bangunan ini dimulai dari Sultan Hamengku Buwono I, karena ia berperan sebagai arsitek.

Selama hampir satu tahun proses pembangunan, Sultan Hamengku Buwono I berserta keluarganya tinggal di Pesaggrahan Ambar Ketawang.

Pembangunan keraton dilakukan dengan penuh pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan pemerintahan, sosial, ekonomi, budaya, maupun tempat tinggal.

Selain keraton, dibangun pula sarana kelengkapan yang lain, seperti benteng, kompleks Tamansari, Masjid Gedhe, dan Pasar Gedhe.

Sultan Hamengku Buwono I resmi menempati keraton pada 7 Oktober 1756. (2) 

Baca: Keraton Kasepuhan Cirebon

Kompleks Keraton Yogyakarta dibagi dalam tiga halaman yang membujur dari arah utara ke selatan.

Di halaman tersebut masih dibagi lagi menjadi beberapa halaman yang lebih kecil dan terdapat beberapa bangunan di dalamnya.

Setiap bangunan keraton memiliki corak arsitetur yang khas dan mengandung makna simbolik yang berbeda-beda.

– Halaman pertama, dibagi dalam tiga bagian, yaitu Alun-Alun Utara, Pangelaran, Siti Hinggil utara, Kemandung utara, dan Sri Manganti.

Selain itu, dibagian barat Alun-Alun terdapat Kompleks Masjid Gedhe Kasultanan atau Masjid Gedhe Kauman.

– Halaman kedua adalah kedaton, yang mempunyai bangunan-bangunan penting seperti Bangsal Prabayeksa, Bangsal Kencana, Gedong Purworetno, Gedong Jene, Trajutrisno, Bangsal Manis, Kasatriyan, Keputren, Kedaton Kilen, dan Kedaton Wetan.

– Halaman ketiga adalah Magangan, Kemandhungan Selatan, Siti Hinggil, dan Alun-Alun Selatan.

Selain itu juga terdapat bangunan, seperti Taman Sari, Kadipaten, Benten Baluwerti, dll.

Bahkan, diluar lingkungan keraton seperti Tugu Golong Gilig, Panggung Krapyak, Kepatihan, Pathok Negoro, dan Pasar Bering Harjo juga termasuk dalam bagian keraton. (2)

Baca: Keraton Surakarta Hadiningrat

(Tribunnewswiki.com/ Husna)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here