Kesenian Ludruk – Tribunnewswiki.com

0
29


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Ludruk merupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Jawa Timur.

Kesenian tradisional yang berbentuk pertunjukan drama ini banyak ditampilkan di daerah Surabaya, Jombang, dan Malang.

Kata ‘ludruk’ berasal dari kata ‘molo-molo’ dan ‘gedrak-gedruk’.

Molo-molo artinya kondisi mulut yang penuh tembakau sugi yang ingin dimuntahkan.

Secara kiasan, itu menggambarkan kata-kata dalam bentuk kidung dan dialog yang dikeluarkan dalam pentas.

Sementara itu, gedrak-gedruk merupakan kondisi kaki yang dihentak-hentakkan ke bawah saat menari di pentas.

Kesenian Ludruk menggunakan bahasa Jawa atau Madura dan disisipkan guyonan dan gerak yang akan membuat penonton tertawa.

Kesenian ini pertama kali diciptakan oleh kaum pinggiran Surabaya yang diangkat dari cerita kehidupan sehari-hari.

Cerita yang diangkat biasanya yang melekat dengan kehidupan dan budaya masyarakat menengah bawah Jawa Timur, seperti legenda, dongeng, atau kisah sejarah.

Masyarakat sangat menyukai kesenian ini, mulai dari ibu rumah tangga, tukang becak, sopir angkutan umum, dan lainnya. (1)

Set panggung dalam pertunjukan ludruk sangat sederhana
Set panggung dalam pertunjukan ludruk sangat sederhana (Indonesia Kaya)

Baca: Kesenian Lais

Awalnya kesenian ini tidak ditampilkan di panggung, tetapi di tanah lapang.

Alat musik yang dimainkan hanya kendang dan tanjidor.

Kemudian, Ludruk Bandhan berkembang menjadi Lerok Pak Santik pada abad ke-17 dan ke-18.

Kata Lerok berasal dari kata ‘lira’ yang berarti alat musik petik, seperti kecapi.

Pak Santik sendiri merupakan seorang petani asal Jombang sekaligus tokoh yang memperbaharui kesenian ludruk.

Pak Santik menggunakan riasan wajah dan ikat kepala serta celana hitam yang terkulai hingga atas mata kaki.

Dalam pertunjukannya, ia juga mengenakan selendang yang disampirkan di bahu, sedangkan dadanya dibiarkan dibuka.

Pak Santik menari (ngremo) sambil berbicara sendiri mengungkapkan isi hatinya (kidungan).

Kesenian tersebut kerap ditampilkan oleh Pak Santik dalam berbagai acara, seperti pesta pernikahan, sunatan dan kelahiran di kampung-kampung.

Seiringnya waktu, Pak Santik tampil bersama beberapa temannya yang berperan sebagai pelawak dan perempuan.

Sejak saat itu, dalam pertunjukan ludruk mulai ada diskusi yang kemudian identik dengan guyonan. (1)

Baca: Kesenian Tanjidor

Pada tahun 1920, kesenian ludruk dipimpin oleh Cak Durasim dan mengalami banyak perubahan dalam konsep dagelan.

Ludruk cenderung lebih kepada lawak halus dengan permainan kata-kata dan sindiran sosial-politik.

Cak Durasim merupakan pemimpin Ludruk Genteng sekaligus legendaris di dunia kesenian ludruk.

Ludruk Genteng kemudian berganti nama menjadi Ludruk Gondo, jenis ludruk baru.

Cak Durasim juga memanfaatkan pertunjukan rakyat ini untuk mengemukakan berbagai ide nasionalisme dan perlawanan.

Saat masa penjajahan Jepang, Cak Durasim menciptakan kidungan yang legendraris, yaitu ‘Pegupon omahe doro, melok Nipon tambah soro’, yang berarti ‘pegupon rumah burung dara, ikut Nipon tambang sengsara’.

Akibatnya, ia disika oleh tentara Jepang dan meninggal dunia pada tahun 1944.

Kemudian, kesenian tersebut dilanjutkan oleh Wibowo atau Cak Gondo bersama Ludruk Marhaen yang populer pada tahun 1950-an hingga 1965.

Ludruk Marhaen sempat redup pada awal Orde Baru, tetapi para seniman  ludruk kemudian muncul dan meraih ketenaran, salah satunya Kartolo Cs.

Kartolo, seorang seniman ludruk yang sudah puluhan tahun menggeluti kesenian Jawa Timur ini
Kartolo, seorang seniman ludruk yang sudah puluhan tahun menggeluti kesenian Jawa Timur ini (Indonesia Kaya)

Kartolo dan teman-temannya menampilkan ludruk dengan kreatif dan disisipi lawakan.

Hal tersebut membuat kesenian ini kembali hidup.

Kesenian Ludruk sampai sekarang dapat bertahan karean para pemainnya sangat akrab dengan budaya setempat.

Mereka juga menyampaikan dengan bahasa yang komunikatif dan disisipi lawakan yang menghibur. (2)

Baca: Tari Magasa

Pertunjukan ludruk dimainkan oleh beberapa puluh orang, tetapi kebanyakan laki-laki karena penokohannya yang cup berat secara fisik.

Durasi pertunjukan pun juga panjang, mulai dari jam 9 malam hingga pagi.

Para pemain ludruk biasanya menampilkan enam dagelan yang berbeda, enam cerita yang berbeda dan tiga jenis ngremo selama 20 pertunjukan berturut-turut.

Alat musik untuk mengiringi pertunjukan ini menggunakan alat musik gamelan berlaras slendro dan pelog.

Biasanya alat musik tersebut dimainkan saat memeragakan Tari Remo.

Tari Remo sebagai  pembuka pertunjukan ludruk, hanya dibawakan oleh seorang penari
Tari Remo sebagai pembuka pertunjukan ludruk, hanya dibawakan oleh seorang penari (Indonesia Kaya)

Kidungan yang dinyanyikan juga sesuai dengan struktur pementasan, seperti kidungan Tari Ngremo, kidungan bedayan, kidungan lawak dan kidungan adegan.

Busana yang dikenakan tidak ada yang khusus, hanya menggunakan pakaian sehari-hari masyarakat Jawa pada umumnya.

Dalam pertunjukannya, ludruk dibagi menjadi empat bagian, yaitu Tari Remo, bedayan, dagelan dan pertunjukkan utama. (1)

Baca: Tari Remo

(TribunnewsWiki.com/Atika)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here