Kesenian Tanjidor – Tribunnewswiki.com

0
17


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Tanjidor merupakan kesenian tradisional asal Betawi yang berbentuk orkes.

Asal usul nama Tanjidor berasal dari tambur yang bunyinya dor dor dor, sementara tanji artinya menabuh, maka kedua kata itu digabung menjadi Tanjidor.

Konon, seni ini berasal dari Belanda dan masuk ke tanah Betawi pada masa pemerintahan VOC.

Seorang ahli musikologi Belanda bernama Ernst Heinz juga berpendapat bahwa Tanjidor asalnya dari para budak yang diberikan tugas memainkan musik untuk tuannya.

F. De Haan yang merupakan sejarawan Belanda  juga berpendapat yang sama, bahwa Tanjidor  berasal dari orkes budak pada masa Belanda. (1)

Tanjidor
Tanjidor (Indonesia Kaya)

Baca: Ondel-ondel

Tanjidor muncul pertama kali pada abad ke-19.

Kemunculan Tanjidor dikenalkan di Citrap (Citeureup), Bogor oleh Augustijn Michiels atau lebih dikenal sebagai Mayor Jantje.

Ia merupakan tuan tanah dan memiliki ratusan budak yang mempunyai keahlian, di antaranya memainkan alat musik.

Mayor Jantje sendiri juga memiliki beberapa ansambel musik di rumahnya, seperti ansambel Eropa, marching band tentara, ansambel Cina dan gamelan.

Sehingga, dibentuklah kelompok musik bernama ‘Het Muziek der Papangers’ yang berisikan 30 budak.

Supaya para  budaknya itu dapat bermain musik, Mayor Jantje  memanggil guru les dari Belanda untuk mengajari mereka.

Para budak itu memainkan berbagai macam alat musik khas Eropa, seperti tamburin Turki, terompet Perancis, drum bas dan clarinet.

Saat mengadakan pesta dan jamuan makan, para pemusik itu bertugas memberikan hiburan untuk Mayor Jantje.

Mereka bermain musik sambil berbaris mengitari meja yang telah diisi oleh tamu.

Pada tahun 1833, Mayor Jantje menutup usia dan keluarganya melelang 30 musisi budak dan instrumen mereka.

Usai perbudakan dihapuskan pada tahun 1860, para budak ini merdeka  dan membentuk sebuah kelompok musik, kemudian diberi nama Tanjidor.

Saat mengiringi pesta dansa, polka, mars, lancier dan lagu-lagu parade, mereka memainkan lagu-lagu Eropa.

Kemudian, mereka mulai memainkan lagu-lagu yang dibuat sendiri, seperti Batalion, Kramton, Bananas, Was Tak-tak, Cakranegara dan lainnya.

Grup Tanjidor itu, kemudian membawakan lagu asli Jakarta, seperti Jali-Jali, Surilang, Kicir-Kicir, Cente Manis.

Selain itu, juga membawakan lagu Sunda, seperti Kang Haji, Daun Pulus dan Sulanjana.

Masyarakat yang tinggal di Bekasi, Depok, Tangerang, Bogor dan Karawang kemudian mengembangkan kesenian Tanjidor.

Kebanyakan para pemainnya berasal dari luar Jakarta. (2)(3)

Baca: Gamelan

  • Sempat Dilarang oleh Pemerintah Daerah

Tanjidor sempat dibubarkan saat Jepang menguasai Indonesia pada tahun 1942 karena tidak sesuai dengan budaya Jepang.

Hal itu membuat para seniman Tanjidor kehilangan tempat untuk bermain.

Kemudian, mereka mulai mengamen dari rumah ke rumah, khususnya rumah-rumah keturunan Tionghoa.

Penghasilan mereka meningkat usai dipanggil untuk menghibur pesta rakyat atau acara keluarga, seperti pernikahan, Cap Go Meh dan lainnya.

Pada tahun 1953, Walikota Jakarta saat itu, Raden Soediro, melarang grup musik Tanjidor bermain dalam bentuk apapun.

Ia menganggap bahwa orkes Tanjidor merendahkan derajat pribumi karena mengemis kepada orang keturunan Tionghoa.

Saat ini, orkes itu sudah jarang ditemui.

Salah satu yang masih bertahan hingga sekarang ialah Sanggar Tanjidor Pusaka Tiga Sodara.

Sanggar yang berada di daerah Jagakarsa ini sudah berdiri sejak tahun 1973.

Sanggar yang dipimpin oleh Said Neleng masih ada dan mempertahankan budaya Jakarta hingga sekarang. (3)

Baca: Kesenian Lais

Jenis alat musik yang ada di orkes Tanjidor cukup lengkap.

Mulai dari alat musik tiup hingga tabuh, di antaranya:

-Klarinet (tiup): suling yang menghasilkan suara kecil melengking

-Piston (tiup): klep-klep pada terompet yang dipijit jari tangain untuk mendapatkan nada

-Trombon (tiup): terompet panjang digerakkan dengan memendek atau memanjang untuk mendapatkan nada yang diinginkan

-Saksofon tenor (tiup) atau tuba jongkok: dimainkan di atas pangkuan sehingga terlihat seperti orang berjongkok

-Saksofon bas (tiup) atau bas selendang: dimainkan dengan cara disandangkan seperti memakai selendang

-Drum (membranofon): dimainkan dengan cara diukul dengan tangan atau stik

-Simbal (perkusi): dimainkan dengan memukul membrannya dengan dua stik kayu

-Tambur (side drums): sisi  kanan dari kain lunal yang dimainkan dengan cara dipukul memakai tongkat pemukul kayu. Sisi satunya, pemain memegang simbal yang dipukulkan yang diletakkan di atas tambur. (2)

Baca: Tari Wayang

(TribunnewsWiki.com/Atika)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here