Kudeta APRA – Tribunnewswiki.com

0
4


TRIBUNNEWSWIKI.COM- Kudeta APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada 23 Januari 1950 pada masa Kapten KNIL Raymond Wasterling saat memimpin kelompok milisi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

Kapten KNIL Raymond Westerling juga merupakan mantan komandan Depot Speciale Troepen, pasukan khusus KNIL.

Pasukan ini masuk ke wilayah Bandung dan membunuh semua orang berseragam TNI yang ditemui.

Aksi gerombolan ini telah direncanakan oleh Westeling sebelum beberapa bulan yang lalu. Bahkan sudah diketahui oleh pimpinan tertinggi militer Belanda. (1)

Baca: Front Demokrasi Rakyat (FDR)

Korban APRA di Bandung (www.pikiran-rakyat.com)
Korban APRA di Bandung 

Perang APRA ini terjadi karena hasil keputusan keputusan dari Konferensi Meja Bundar (KMB) pada Agustus 1949.

Hasil dari KMB, yaitu:

– Kerajaan Belanda akan menarik pasukan KL dari Indonesia
– Tentara KNIL akan dibubarkan dan akan dimasukkan ke dalam kesatuan-kesatuan TNI.

Hasil dari keputusan ini membuat para tentara KNIL merasa khawatir, jika mendapatkan hukuman serta dikucilkan dalam kesatuan.

Sejak itu, Kapten Westerling dutugaskan untuk mengumpulkan para desertir dan anggota KNIL yang sudah dibubarkan.

Sebanyak 8.000 pasukan berhasil terkumpul. Selanjutya, target utama dari operasinya adalah Jakarta dan Bandung.

Pada awal 1950, Jakarta tengah melakukan sidang Kabinet RIS untuk membahas kembali terbentuknya negara kesatuan.

Sedang Bandung adalah kota belum sepenuhnya dikuasai oleh pasukan Siliwangi, karena Bandung merupakan basis kekuatan militer Belanda.

Gerakan ini pun kemudian mereka namai dengan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).

Nama Ratu Adil dalam gerakan APRA sudah lebih dulu disebut-sebut, karena memiliki sebuah makna penting bagi masyarakat yang saat itu sedang dijajah.

Ratu Adil menjadi ideologi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, menitikberatkan akan datangnya juru selamat yang akan membawa kesejahteraan pada suatu masa.

Karena Ratu Adil sangat diyakini oleh masyarakat, Kapten Westerling pun memanfaatkan nama tersebut guna menarik dukungan dalam melancarkan rencananya. (2) 

Baca: De Jure

Pada 5 Januari 1950, Westerling mengirimkan surat ultimatum kepada RIS.

Surat itu berisi tuntutan agar RIS menghargai negara-negara lain, terutama Pasundan.

Pemerintahan RIS juga diminta untuk mengakui APRA sebagai tentara Pasundan.

Surat ultimatum ini tidak hanya meresahkan RIS saja, tetapi juga beberapa pihak Belanda.

Guna mencegah tindakan Westerling, Moh. Hatta mengeluarkan perintah untuk melakukan penangkapan terhadap Westerling.
Jenderal Vreeden pun bersama Menteri Pertahanan Belanda yang merasa resah dengan ultimatum ini kemudian menyusun rencana untuk mengevakuasi pasukan RST tersebut. (2)

Bangsa Belanda ingin kembali Indonesia untuk menjajahnya.

Hal itu disebabkan karena Belanda ingin mengamankan kepentingan ekonomi negaranya.

Sikap APRA dianggap mempertahankan para sedadu Belanda dalam sistem pemerintahan federal Indonesia.
Pemberontakan tersebut memang berhasil terealisasikan di Jakarta dan Bandung.

Akan tetapi akhirnya para pemberontak berhasil dilumpuhkan dan ditangani. (3) 

Baca: De Facto

Ketika mengevakuasi RST, gabungan baret merah dan baret hijau sudah terlambat untuk dilakukan.

Westerling sudah lebih dulu mendengar rencana penangkapan tersebut, sehingga ia mempercepat pelaksanaan kudetanya.
Westerling dan anak buahnya menembak mati setiap anggota TNI yang mereka temui di jalan.

Sementara Westerling menyerang kota Bandung dan anak buahnya yang bernama Sersan Meijer menuju ke Jakarta untuk menangkap Presiden Soekarno dan mengambil alih gedung-gedung pemerintahan.

Namun, Wasterling pun mengalami kegagalan karena pasukan KNIL dan Tentara Islam Indonesia (TII) tidak membantunya, hingga serangan yang di Jakarta gagal.

Setelah melakukan pembantaian di Bandung, seluruh pasukan RST kembali ke tempat mereka masing-masing.

Meskipun sudah banyak korban jiwa, Westerling tetap tidak tinggal diam. Ia berniat untuk mengulang kembali tindakannya tersebut.

Namun, upaya keduanya ini gagal, sehingga kudeta pun tidak berhasil dilakukan.

Kegagalan tersebut menyebabkan adanya demoralisasi anggota milisi terhadap Westerling dan ia terpaksa melarikan diri ke Belanda.

Larinya Westerling ini kemudian membuat APRA berdiri sendiri tanpa adanya seorang pemimpin yang kuat. Oleh karena itu, APRA resmi tidak kembali berfungsi pada Februari 1950. (2)

Baca: Komunis

(Tribunnewswiki.com/ Husna)

 



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here