Laksamana Maeda – Tribunnewswiki.com

0
7


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Laksamana Muda Tadashi Maeda atau dikenal Laksamana Maeda adalah perwira tinggi Angkatan Laut Jepang.

Laksamana Maeda lahir di Kajiki, 3 Maret 1898.

Ia menjabat sebagai Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Jepang pada masa pendudukan Indonesia di bawah Jepang.

Laksamana Maeda juga merupakan sosok penting pada Kemerdekaan Indonesia, yang mempersilahkan kediamannya di Jl. Imam Bonjol, No.1 Jakarta Pusat sebagai tempat penyusunan naskah proklamasi oleh Soekarno, Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo, serta sang juru ketik Sayuti Melik. (1)

Baca: Letnan Kolonel Untung

Laksamana Maeda, Perwira Tinggi Angkatan Laut Jepang, yang rumahnya di Jalan Imam Bonjol no.I digunakan untuk oleh Soekarno, Hatta, dan Ahmad Subardjo untuk menyusun Naskah Proklamasi 17 Agustus 1945. (KOMPAS/KARTONO RYADI)
Laksamana Maeda, Perwira Tinggi Angkatan Laut Jepang, yang rumahnya di Jalan Imam Bonjol no.I digunakan untuk oleh Soekarno, Hatta, dan Ahmad Subardjo untuk menyusun Naskah Proklamasi 17 Agustus 1945. (KOMPAS/KARTONO RYADI) 

Kediaman Laksamana Maeda menjadi kantor penghubung yang beroperasi pada Oktober 1942.

Ia membentuk empat departemen di kantor penghubung, dengan mayoritas staf adalah warga sipil.

Salah satunya adalah Ahmad Soebardjo, kepala kantor cabang departemen penelitian.

Soebardjo dan Laksamana Maeda sudah saling kenal sejak di Den Haag, Belanda, dan Berlin, Jerman pada 1930.

Saat di Belanda, Soebardjo merupakan aktivis Jong Java dan Persatuan Mahasiswa Indonesia.

Selain itu, Soebarjo bersama Mohammad Hatta merupakan perwakil Indonesia dalam Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Penjajah di Brussels, Belgia dan Jerman.

Ketika itu, Laksamana Maeda menjadi atasan Kedutaan Besar Kekaisaran Jepang di Belanda dan Jerman.

Laksamana Maeda merupakan perwira tinggi militer Jepang yang mendungkung para pemuda Indonesia untuk mewujudkan kemerdekaanya.

Bahkan Laksamana Maeda tidak keberatan jika kantornya digunakan Soebardjo bersama kawan-kawannya untuk mengadakan pertemuan kecil.

Laksama Maeda pun meminta agar Soebardjo untuk melakukan pertemuannya lebih intens untuk mewujudkan kemerdekaan.

Sejak itu, Laksamana Maeda bertolak belakang dengan sikap militer Jepang, terutama Rikugun.

Pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945 saat sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima, Kekaisaran Jepang lanngsung menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Pada 12 Agustus 1945, tiga tokoh nasional, Soekarno, Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat diminta bertemu Panglima Tertinggi Jepang untuk Asia Pasifik Marsekal Hisaichi Terauchi di Dalat, Vietnam.

Dalam pertemuan tersebut, Jepang memberikan kemerdekaan kepada Indonesia pada 24 Agustus 1945.

Namun setelah tiga hari dalam pertemuan itu, Radio Asia Raya mengumumkan kekalahan Jepang atas Sekutu.

Sejak itu pula, Jepang membangkitkan para muda Indonesia untuk meminta Soekarno mengumumkan kemerdekaan secepatnya.

Bertepatan pada 16 Agustus 1945, dibawah pimpinan Sukarni, para pemuda sempat mengasingkan Dwi Tunggal, Soekarno-Hatta, ke Rengasdengklok, Karawang, untuk mengumumkan proklamasi hari itu juga. Ide itu ditolak kedua pemimpin pertama Indonesia.

Soebardjo pun menjemput Dwi Tunggal untuk pulang ke Jakarta yang diiringi para pemuda.

Namun, rapat yang akan digelar di Hotel Des Indes gagal karena mereka tiba di Jakarta sudah larut malam.

Soebardjo yang aktif di Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) kemudian meminta izin kepada Maeda untuk memakai kediamannya sebagai lokasi rapat persiapan kemerdekaan. (2)

Baca: Sukarni Kartodiwirjo

Rumah Laksamana Maeda terletak di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat
Rumah Laksamana Maeda terletak di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat (KOMPAS.com/KARTONO RYADI)

  • Perumusan Naskah Proklamasi

Puluhan tokoh pemuda serta anggota PPKI telah berkumpul di kediaman Laksamana Maeda, memasuki pada 17 Agustus, tengah malam.

Di ruang makan, Soekarno, Hatta dan Achmad Soebardjo melakukan perumusan naskah proklamasi.

Sedangkan, anggota lainnya menanti di ruang besar.

Seusai merumuskan naskah proklamasi, Sukarno menuju ke ruangan besar yang dihadiri 40-50 an orang.

Hatta mengusulkan agar mengikuti deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat founding fathers-nya meneken semua.

Kemudian Sukarni juga mengusulkan, jika penandatangannya diwakilkan dua orang saja, yakni Soekarno dan Hatta. Namun diatas namakan rakyat Indonesia.

Setelah sudah disepakati, Soekarno meminta kepada Sayuti Malik untuk mengetik naskah proklamasi dengan didampingi wartawan BM Diah.

Namun di rumah Laksamana Maeda tidak memiliki mesin ketik dengan huruf latif, hanya huruf kanji saja.

Saat itu, asisten rumah tangga Laksama Maeda dierintah untuk mencari dan meminjam sebuah mesin ketik dari Konsulat Jerman.

Akhirnya mendapatkan pinjaman mesin ketik dari Mayor Kandelar.

Mesin ketik itu digunakan untuk mengetik naskah proklamasi.

Saat mengetik, Sayuti Melik mengubah tiga kata dari tulisan tangan Sukarno, seperti kata ‘tempoh’ menjadi hanya ‘tempo’. Kemudian ‘wakil-wakil bangsa Indonesia’ menjadi ‘atas nama bangsa Indonesia.’

Lalu penulisan tahun. Pada naskah tulisan bung Karno tertulis: ‘Jakarta, 17-8-05’, oleh Sayuti Melik ditambah menjadi ‘hari 17 bulan 8 dan tahun 05’.

Seusai naskah proklamasi sudah selasai diketik, pukul 02.00 dini hari, Sukarno dan Hatta menbubuhkan tanda tangan di atas grand piano yang ada di rumah Maeda.

Berbekal naskah yang telah ditandanganinya, Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia beberapa jam kemudian di kediamannya yang terpaut hampir dua kilometer dari rumah Laksamana Maeda.

Secara keseluruhan rumah Laksamana Maeda hanya digunakan selama empat jam. Namun, empat jam itu lah yang turut menentukan nasib Indonesia sebagai sebuah negara. (3) 

Baca: Haji Misbach

(Tribunnewswiki.com/ Husna)

 



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here