Mochtar Lubis – Tribunnewswiki.com

0
3



TRIBUNNEWSWIKI.COM – Mochtar Lubis adalah seorang jurnalis, penulis novel, penerjemah dan pelukis yang berasal dari suku Batak.

Novelnya yang berjudul Senja di Jakarta atau Twilight in Jakarta)= merupakan novel pertama asal Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Mochtar Lubis merupakan seorang kritikus yang pernah mengkritik Presiden Sukarno dan juga dipenjarakan karena kritik itu.

Mochtar Lubis lahir di Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci, Sumatra, pada 7 Maret 1922 dari pasangan Marah Husin (Raja Pandapotan Lubis) dan Siti Madinah Nasution. (1)

Mochtar Lubis merupakan anak keenam dari sepuluh bersaudara, dan keluarganya adalah keturunan Batak Mandailing.

Baca: Affandi Koesoema

Mochtar bersekolah di HIS Sungai Penuh, Kerinci, Sumatera Tengah, pada tahun 1936, kemudian melanjutkan pendidikannya di Jurusan Ekonomi, Kayutaman pada 1940.

Mochtar Lubis menguasai bahasa asing seperti Bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman dan dia pernah melanjutkan pendidikan di Thomas Jefferson Fellowship (East-West Center, University of Hawaii, USA).

Pada 2 Juli 1945, Mochtar Lubis menikah dengan Siti Halimah Kartawijaya dan dikaruniai 3 anak: Indrawan Lubis, Arman Lubis, dan Yana Zamin Lubis.

Baca: Hendri Satriadi

Mochtar Lubis awalnya bekerja sebagai wartawan di kantor berita Antara yang berada di Yogyakarta pada 1945 hingga 1952. (2)

Kemudian, ia pindah sebagai karyawan di surat kabar Harian Merdeka pada 1945, serta menjabat sebagai pemimpin redaksi majalah Mutiara pada tahun 1949-1950.

Pada 28 Desember 1949, Mochtar mendirikan surat kabar Harian Indonesia Raya dan menjadi pemimpin redaksi pada tahun 1949-1961 dan 1969-1974.

Baca: Howard Schultz

Mochtar Lubis dipenjara di Madiun pada 1956-1966 karena surat kabar Harian Indonesia Raya dianggap paling keras mengkritik para pejabat saat pemerintahan Presiden Sukarno.

Selama di da;am tahanan, Mochtar Lubis menulis karya sastra antara lain Senja di Jakarta, Tanah Gersang, Harimau! Harimau!, serta Maut dan Cinta.

Pada 1958, Mochtar mendapat penghargaan Magsaysay Journalism and Literature Award dari Manila, dan baru diterima delapan tahun kemudian setelah dibebaskan dari tahanan.

Setelah dibebaskan, Mochtar kembali aktif pada masa awal Orde Baru, tetapi Harian Indonesia Raya diberangus setelah peristiwa Malari 1974 dan Mochtar dipenjara selama 2,5 bulan.

Mochtar Lubis juga ikut mendirikan Yayasan Obor Indonesia pada tahun 1970, majalah Horison dan juga Yayasan Hijau Indonesia.

Baca: Muhammad Fajar Firdaus

Mochtar juga pernah bekerja sebagai karyawan Bank Factory di Jakarta, guru SD di Nias, anggota tim monitoring radio Jepang, Ketua Dewan Redaksi majalah Solidarity, dan juri Festival Film Indonesia 1981.

Mochtar Lubis berhubungan baik dengan pengarang asing seperti A. Vicents Compinos, Manual Pacheco, dan Alberto F. Orlandini, bahkan mereka sering mengirimkan karya mereka kepada Mochtar.

Pada tahun 2000, Mochtar dinobatkan sebagai salah satu dari 50 Pahlawan Kebebasan Pers Dunia dari  International Pers Institute selama 50 tahun terakhir. (3)

Mochtar Lubi meninggal di Rumah Sakit Medistra pada 2 Juli 2004 pada usia 82 karena penyakit alzheimer dan dimakamkan di sebelah istrinya di Pemakaman Jeruk Purut.

Baca: Efdal Prastiyo

Novel

– Jalan Tak Ada Ujung (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1952)

– Tak Ada Esok (Jakarta: UP Garuda) 1950

– Jakarta dan Pustaka Jaya, 1982 (I dan II), 1989 (III)

Baca: Pemuda Rakyat

– Tanah Gersang (Jakarta: PT Pembangunan, 1964)

Senja di Jakarta (Jakarta: BP Indonesia Raya, 1970)

– Maut dan Cinta (Jakarta: Dunia Pustaka Jaya, 1977)

– Harimau! Harimau! (Jakarta: Pustaka Jaya, 1978),

Cerita pendek

– Perempuan (kumpulan 18 cerpen, Tintamas, 1956)

– Kuli Kontrak (kumpulan 18 cerpen, Sinar Harapan, 1982)

– Bromocorah (kumpulan 12 cerpen, Sinar Harapan, 1983)

Baca: Pulau Buru

Cerita anak

– Harta Karun dan Bajak Laut (Jakarta, BP Indonesia Raya, 1964)

– Sinbad Pelaut Bagdad; (Jakarta, Dunia Pustaka Jaya, 1976)

– Kisah Judar Bersaudara (saduran kisah “Seribu Satu Malam”, Jakarta, Pustaka Jaya, 1971)

– Dua Belas Puteri yang Menari (terjemahan, Jakarta, Dunia Pustaka Jaya, 1977)

– Si Jamal (kumpulan 12 cerpen, Gapura, 1951)

– Penyamun Rimba (Jakarta, Pustaka Jaya, 1972)

Baca: Manifes Kebudayaan

– Pemburu Muda (penceritaan kembali, Jakarta, Pustaka Jaya, 1977)

– Tiga Bersaudara (penceritaan kembali, Semarang, Selok Kencana, 1978)

– Berkelana Rimba (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia dan Pustaka Jaya, 1980)

Karya lain-Lain

– Drama “Pangeran Wiraguna” (Horison, No. 4 dan 5/Th.2, 1967)

– Catatan dari Camp Nirbaya (kumpulan puisi)

– Teknik Mengarang (Jakarta, Balai Pustaka, 1950)

Baca: Museum Pusaka Karo

– Teknik Mengarang Skenario Film (Jakarta, Balai Pustaka, 1953)

– Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban (Jakarta, Idayu Press, 1977)

– Bangsa Indonesia (Masa Lampau-Masa Kini-Masa Depan), (Jakarta, Yayasan Idayu, 1978)

– Catatan Subversif (Jakarta, Sinar Harapan, 1980)

– Transformasi Budaya untuk Masa Depan (Jakarta, DKJ, 1983)

– Sastra dan Tekniknya (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1997).

Baca: Bektur Talgat uulu

Mochtar Lubis menerima berbagai penghargaan dari karya-karyanya.

– Pena Emas untuk kemerdekaan pers dari Federation Internationale Des Editeurs de Jounaoux et Publication (Federasi Penerbit Surat Kabar Internasional) di Perancis.

– Hadiah Sastra Nasional BMKN untuk Jalan Tak Ada Ujung, 1952

– Hadiah dari majalah Kisah untuk cerpen “Musim Gugur”, 1953

– Penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) untuk peliputan perang di Korea, 1953

Baca: Chairil Anwar

– Hadiah Sastra BMKN untuk kumpulan cerpen Perempuan, 1955—1956

– Hadiah Yayasan Buku Utama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk novelnya Harimau-Harimau, 1975

– Hadiah Sastra Yayasan Jaya Raya untuk novel Maut dan Cinta, 1979

– Penghargaan Anugerah Sastra Chairil Anwar dari Dewan Kesenian Jakarta, 1992

– Penghargaan Bintang Mahaputera Utama dari Pemerintah RI, 2004.

(TribunnewsWiki.com/Mirta)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here