Museum Multatuli – Tribunnewswiki.com

0
13



TRIBUNNENWSWIKI.COM – Museum Multatuli adalah sebuah museum umum di mana perencanaan pembangunannya dimulai sejak tahun 2015.

Pada 2016, pembangunan museum mulai dilakukan dengan menempati bangunan bekas Wedana Rangkasbitung yang dibangun pada tahun 1923.

kepemilikan Museum Multatuli dipegang oleh Pemerintah Kabupaten Lebak dan dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak.

Museum ini terdiri dari tujuh ruangan yang menampilkan empat tema besar, yakni Antikolonialisme, Multatuli alias Eduard Douwes Dekker dan karyanya, sejarah Lebak dan Banten, serta Rangkasbitung masa kini.

Pada tahun 2016, delegasi pejabat dan guru dari Pemerintah Kabupaten Lebak berkunjung ke Belanda guna mengunjungi Arsip Nasional Belanda dan Museum Multatuli di Amsterdam.

Kunjungan itu bertujuan untuk membangun komunikasi dan persahabatan di antara lembaga-lembaga tersebut untuk keberlangsungan Museum Multatuli yang tengah dirintis.

Pada 11 Februari 2018, Museum Multatuli secara resmi dibuka untuk umum dimana peresmiannya dilakukan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid bersama Bupati Lebak, Hj. Iti Octavia Jayabaya. (1)

Baca: Roemah Martha Tilaar (Museum Budaya Gombong)

Baca: Museum Bahari Bintan

Nama Museum Multatuli diambil dari nama pena seorang penulis yang bernama Eduard Douwes Dekker.

Ia merupakan seorang asisten residen Lebak yang bermukim di Rangkasbitung pada bulan Januari hingga Maret tahun 1856.

Pada tahun 1860, Multatuli menulis sekaligus menerbitkan sebuah novel yang diberi judul Max Havelaar.

Novel tersebut menjadi salah satu karya penting yang membahas seputar sejarah Banten dan Lebak.

Hal itulah yang membuat pemerintah Kabupaten Lebak memutuskan untuk mendirikan sebuah museum yang diberi nama Museum Multatuli.

Museum Multatuli terletak di Provinsi Banten, tepatnya di pusat Kabupaten Lebak yaitu Rangkasbitung, dimana berada di bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak.

Museum Multatuli berada di bagian timur dan bertepatan dengan lokasi Kantor Bupati Rangkasbitung di sebelah kanan serta berdampingan dengan Perpustakaan Saidjah Adinda. (2)

Baca: 17 AGUSTUS – Serial Pahlawan Nasional: Douwes Dekker

Baca: Museum Kata Andrea Hirata

Di dalam Museum Multatuli tersimpan beragam koleksi, salah satu yang utama ialah novel berjudul Max Havelaar yang berbahasa Prancis yang dicetak dengan tahun cetakan 1868.

Ada pula ubin bekas tempat tinggal Multatuli, litografi Multatuli, serta peta Rangkasbitung pada abad ke-20.

Museum Multatuli juga mengoleksi patung-patung hasil karya Dolorosa Sinaga, kumpulan foto sejarah Kabupaten Lebak, surat Eduard Douwes Dekker untuk Raja Willem III dan surat Soekarno kepada Samuel Koperberg.

Museum ini memberikan koleksi informasi sejarah dengan menggunakan multimedia berupa audio dan video yang ditampilkan lewat layar monitor.

Pada ruangan keempat, pengunjung dapat menyaksikan video singkat tentang Multatuli dari hasil wawancara dengan narasumber yaitu Pramoedya Ananta Toer.

Ruangan keenam mengisahkan tentang sejarah Lebak serta video singkat mengenai tokoh-tokoh sejarah Rangkasbitung.

Rekaman suara penyair asal Indonesia yaitu W.S. Rendra yang membacakan sajak “Demi Orang-orang Rangkasbitung” dapat ditemukan di ruangan ketujuh. (2)

Baca: Pramoedya Ananta Toer

Baca: Museum Pusaka Nias

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here