Pawai Kematian Bataan – Tribunnewswiki.com

0
15


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Pawai Kematian Bataan merupakan pemindahan paksa oleh Angkatan Darat Kekaisaran Jepang terhadap para tahanan perang Filipina dan Amerika.

Jumlah tahanan tersebut sekitar 60.000-80.000, mereka digiring dari Titik Saysain, Bagac, Bataan dan Mariveles ke Kamp O’Donnell, Capas, Tarlac, melalui San Fernando, Pampanga, dimana para tahanan diangkut memakai kereta.

Jarak perjalanan ini antara 96.6 hingga 112.0 km dari dari Mariveles sampai San Fernando dan dari Stasiun Kereta Capas sampai Kamp O’Donnell.

Barisan tersebut diwarnai dengan serangkaian pelecehan fisik dan pembunuhan.

Bahkan, peristiwa itu digugat oleh komisi militer Sekutu atas kejahatan perang Jepang. (1) 

Baca: Tragedi Mandor

Pawai Kematian Bataan
Pawai kematian Bataan atau Bataan Death March

Kekejaman Jepang dalam Pawai Kematian Bataan ini menjadi titik balik AS dalam meladeni Negeri Sakura.

Mereka seolah-olah ingin menyingkirkan seluruh peluang untuk berdamai dengan Jepang dalam Perang Dunia II.

Pada saat itu, pasukan Amerika diperlakukan sangat hina, karena terbiasa berada superior.

Bahkan, semasa itu merupakan titik terendah pasukan AS di mata lawan perangnya.

Pasukan Jepang sudah dikenal dalam kekejamannya saat memperlakukan musuh perang,  yakni Romusha dan Jugun lanfu.

Perlawanan pasukan Jepang dengan pasukan AS merupakan dua pasukan yang tak kalah superior.

Bom ‘maut’ yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki untuk diambil perlawanan setelah melihat perlakukan tentara Jepang di Bataan, Filipina. (2) 

Baca: Tragedi Trisakti

Pada awal 1942, peristiwa ini bermula dari kekalahan di Pearl Harbor, Guam, Pulau Wake, Laut Jawa, dan Singapura.

AS yang tak siap dengan serangan Jepang di Filipina akhirnya memutuskan untuk menyerah.

Para pemimpin militer Amerika memahami bahwa jika terjadi perang dengan Jepang, pertahanan Filipina yang paling bermasalah.

Para pemimpin militer AS lalu menyusun War Plan Orange dengan mempertimbangkan batasan-batasan ini.

Jika terjadi perang dengan Jepang, pasukan AS di Filipina akan mundur ke Semenanjung Bataan dekat Manila dan menunggu bantuan.

Salah satu tugas angkatan laut yang akan mengalahkan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di sepanjang jalan.

Perencana militer tidak memperhitungkan hilangnya delapan kapal perang pada permulaan konflik, empat di antaranya bertumpu di dasar Pearl Harbor, Kepulauan Hawaii.

War Plan Orange juga tidak memperhitungkan kepribadian berubah-ubah Jenderal Douglas MacArthur, komandan pasukan AS dan Filipina.

Tentara Filipina terlalu yakin untuk melawan Jepang.

Hal ini karena mereka telah dilatih, namun lupa bahwa angkatan udara Jepang secara tiba-tiba telah menghancurkan di darat pada hari pertama konflik.

MacArthur memindahkan pasukannya dan perbekalan yang menopang mereka untuk maju menghadapi invasi Jepang di Teluk Lingayen.

Pasukan Jepang pun telah mengalahkan banyak pasukan Filipina dan Amerika hingga memaksa mereka untuk mundur.

Alih-alih kembali ke semenanjung Bataan yang dibentengi dan dilengkapi dengan persediaan untuk pengepungan yang lama, pasukan Filipina dan Amerika terpaksa meninggalkan sebagian besar persediaan mereka selama mundur.

Pasukan segera memberikan setengah jatah, pada akhir pertempuran empat bulan kemudian mereka mendapat jatah tinggal seperempat.

Akibatnya, puluhan ribuan tentara Amerika dan Filipina yang ditawan Jepang pada bulan April 1942 sudah menderita kekurangan gizi dan penyakit. (2)

Baca: Tragedi Santa Cruz

Pada 22 Desember 1941, Jepang menginvansi Filipina.

Jenderal Masaharu Homma merupakan pimpinan tentara kekaisaran yang ditugaskan untuk membuang pasukan Amerika dan Filipina di seluruh nusantara.

Kepala pasukan Amerika bernama Jenderal Douglas MacArthur, menugaskan pasukannya secara luas di nusantara, yang menyebabkan penipisan unit tertentu di sekitar sembilan pulau besar negara itu.

Saat itu, juga pasukan Homma mendarat dan melancarkan serangan mereka dengan cepat.

Pasukan Homma menerobos benteng semenanjung Betaan, yang bertujuan untuk memajukan signifikan di seluruh negeri.

Meskipun begitu, pertempuran antar pasukan terjadi di sana.

Sayangnya bagi MacArthur, distribusi pasukannya menyebabkan kekurangan jatah dan memaksa anak buahnya untuk makan sedikit saja untuk bertahan hidup.

Meskipun begitu, pasukan Amerika dan Filipina yang kekurangan pasokan menahan 20.000 pasukan Homma yang maju.

Dalam dua bulan, Homma memiliki sepersepuluh dari pasukannya untuk memaksanya untuk mundur.

Homma dipermalukan oleh para komandan di Tokyo.

Pemborosan tenaga kerja Jepang yang berharga memaksa markas besar untuk menyerahkan kendali operasi Filipina kepada Jenderal Yamashita.

Namun, mereka mengirim Homma kembali untuk serangan baru pada 3 April 1942 dengan tank, serta dukungan udara, dan artileri berat. (3) 

Baca: Peristiwa Malari

(Tribunnewswiki.com/ Husna)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here