Pembantaian Pulau Bangka – Tribunnewswiki.com

0
8


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Pembantaian Pulau Bangka merupakan sebuah peristiwa yang terjadi ketika Kekaisaran Jepang menembaki 22 perawat Angkatan Darat Australia dan kurang lebih 60 tentara Australia dan Brintania di Pulau Bangka.

Bahkan, Kekaisaran Jepang juga menenggelamkan dua awak kapal.

Pada 1942, sekelompok perawat Australia dibunuh para serdadu Jepang dengan kejahatan seksual sebelum dibantai, hingga pemerintahan Australia menutupi kejadian itu.

Peristiwa yang menimpa 22 perawat Australia ini disuruh berbaris ke tepi laut di Pulau Bangka Indonesia, hingga mereka diberondong dengan senapan mesin pada Februari 1942.

Semua korban pun meninggal dunia dan tersisa satu orang. (1)  (2) 

Baca: Peristiwa Malari

pembantai pulau bangka
Jepang melakukan pembantaian di pulau Indonesia ini pada Perang Dunia II.

Pada 12 Februari 1942, kapal pesiar kerajaan Sarawak Vyner Brooke meninggalkan Singapura tepat sebelum kota itu jatuh ke tangan Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.

Kapal tersebut dibom oleh pesawat Jepang hingga tenggelam. Padahal di dalam kapal itu, mengangkut prajurit yang cedera dan 64 perawat dari usia 2-13 tahun, dengan tujuan ke Australian General Hospital.

Dua perawat tewas saat pengeboman dan sembilan lainnya berada di sekoci, serta sisanya terdampar di Pulau Bangka Indonesia.

Para perawat berkumpul dengan tentara dan korban luka dari Vyner Brooke.

Setelah diketahui bahwa pulau tersebut dikuasai Jepang, salah seorang perwira Vyner Brooke melakukan proses penyerahan diri kepada pihak berwenang di Muntok.

Beberapa wanita dan anak-anak mengikutinya, para perawat diam di tempat untuk menangani korban luka.

Mereka mendirikan tenda berlambang Palang Merah di atasnya.

Ketika siang hari, perwira itu kembali diiringi 20 tentara Jepang.

Mereka memerintahkan seluruh prajurit terluka yang mampu berdiri untuk berjalan mengitari sebuah tanjung.

Sejumlah perawat mendengar rentetan tembakan sebelum tentara Jepang kembali, duduk di depan mereka, dan membersihkan bayonet dan senjatanya masing-masing.

Seorang tentara Jepang memerintahkan 22 perawat dan seorang perempuan untuk berjalan ke tepi pantai.

Sebuah senjata mesin dipasang di pantai dan setelah terendam sepinggang, mereka ditembaki. Semuanya tewas kecuali Sister Lt Vivian Bullwinkel.

Korban luka yang masih tergeletak di tandu langsung dibayonet dan dibunuh.

Saat itu Bullwinkel tertembak di diafragma dengan keadaan tidak sadar saat tubuhnya terdampar di pantai, hingga dikira sudah meninggal.

Ia pun berhasil berahan hidup selama 10 hari sampai akhirnya ditangkap dan dipenjara.

Perang pun berakhir dan ia memberi kesaksiannya tentang pembantaian ini di pengadilan kejahatan perang di Tokyo pada tahun 1947. (3)

Baca: Tragedi Mandor

pembantian pulau bangka
Vivian Bullwinkel adalah penyintas tunggal dalam peristiwa pembantaian di Pulau Bangka.

Perawat Vivian Bullwinkel ini selamat dari tembakan dan pembantaian dengan berpura-pura mati.

Sebelum kembali ke Australia, ia bersembunyi di hutan dan dibawa sebagai tawanan perang.

Dari sekelompok kecil pria yang dibantai, dua orang diketahui selamat, yaitu bernama Ernest Lloyd dan Eric Germann.

Saat itu, seragam Bullwinkel telah dikoyak dan dijahati kembali menggunakan benang berbeda warna, yang merupakan bukti penyerangan seksual.

Hal itu terjadi sebelum Bullwinkel meninggal dunia. (2)

Baca: Tragedi Santa Cruz

(Tribunnewswiki.com/ Husna)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here