Perang Belasting – Tribunnewswiki.com

0
15


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Perang Belasting merupakan perang yang terjadi antara rakyat Sumatera Barat melawan pemerintahan Hindia Belanda yang disebabkan oleh penerapan pajak.

Pemerintah Hindia Belanda menaikkan pajak kepada masyarakat Sumatera Barat.

Oleh sebab itulah rakyat di Sumatera Barat melakukan perlawanan.

Perang ini berlangsung pada 15-16 Juni 1908. (1)

Baca: Perang Napoleon di Jawa 1811

Latar belakang terjadinya Perang Belasting itu dimulai dari keuangan negara Belanda yang merosot.

Dan bisnis kopi yang berada di Sumatera Barat itu adalah salah satu sumber pendapatan yang dimiliki pemerintah Hindia Belanda.

Namun pada saat itu bisnis itu pun ikut lesu.

Akhirnya pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk menaikkan pajak sebanyak 2 persen.

Kebijakan itu diumumkan pada 21 Februari 1908, dan mulai diberlakukan pada 1 Maret 1908.

Selain itu terdapat beberapa pajak baru bagi rakyat Sumatera Barat yakni pajak kepala (hoofd), pemasukan barang (inkomsten), rodi (hedendisten), tanah (landrente), keuntungan (wins), rumah tangga (meubels), penyembelihan (slach), tembakau (tabak), dan pajak rumah adat (huizen). (2)

Kompleks Makam Pejuang Mangopoh pada Perang Belasting.
Kompleks Makam Pejuang Mangopoh pada Perang Belasting. (Wikipedia)

Baca: Perang Bone

 

 

Untuk menyikapi hal itu para penghulu andiko (datuak kampuang) menggelar rapat secara sembunyi-sembunyi.

Mereka merencanakan untuk melakukan perlawanan.

Namun sayangnya rencana itu bocor.

Pada 22 Maret 1908 para penghulu andiko ditangkap oleh Belanda dan dijebloskan ke penjara.

Akibatnya rakyat di Sumatera Barat pun geram dan melakukan protes.

Puncaknya ialah pada 15-16 Juni 1908 yang mana rakyat yang berada di daerah Kamang mulai melakukan perlawanan.

Ribuan rakyat Kamang yang bersenjata seadanya melawan tentara Hindia Belanda yang bersenjata senapan lengkap.

Pada pertempuran itu tokoh Kamang yang bernama Haji Abdul Manan gugur.

Pertempuran serupa juga terjadi di Mangopoh, Kabupaten Agam.

Di sana pertempuran dipimpin oleh perempuan bernama Mande Siti yang kala itu berusia 28 tahun.

Salah satu Makam Pahlawan Kamang dalam Perang Belasting
Salah satu Makam Pahlawan Kamang dalam Perang Belasting (Wikipedia)

Baca: Perang Al-Abwa

Pada 16 Juni 1908, menjelang tengah malam, Mande Siti bersama dengan dua veteran perang Kamang, Rasyid Bagindo Magek dan Majo Ali, beserta rombongan 17, mulai mengepung markas Belanda.

Ketika lengah, 53 tentara Hindia Belanda dari jumlah total 55 tentara berhasil ditumpas.

Dua tentara Belanda berhasil melarikan diri.

Dan pada malam itu, Siti terluka terkena tembakan.

Besoknya, pasukan Hindia Belanda dari Pariaman dan Bukittinggi dikerahkan untuk mengejar para pemberontak di Mangopoh.

Serangan pembalasan pun dimulai di mana kampung dibakar dan para pemberontak dikejar.

Mande Siti dan suaminya, Rasyid Bagindo Magek, berhasil melarikan diri dan bersembunyi di hutan.

Anaknya, yang masih balita, dititipkan pada kedua orang tuanya.

Akhirnya, setelah 17 hari dalam pelarian, Siti dan Rasyid ditangkap.
Siti ditahan di penjara Lubuk Basung selama 14 bulan.

Kemudian Siti dipindah ke Pariaman 16 bulan dan Padang 12 bulan.

Sedangkan suaminya dibuang ke Manado, Sulawesi Utara. (2)

(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here