Pramoedya Ananta Toer – Tribunnewswiki.com

0
10


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Pramoedya Ananta Toer merupakan sastrawan Indonesia sekaligus Pemimpin Lekra.

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah pada 6 Februari 1925.

Pram begitu sapaan akrabnya, ia merupakan putra dari pasangan Imam Badjoeri dan Saidah.

Ayah Pram berprofesi sebagai guru di Sekolah Institut Boedi Utomo sedangkan ibunya adalah seorang penghulu di daerah Rembang.

Pram mulai bersekolah di tempat ayahnya mengajar yakni, Institut Boedi Utomo Blora.

Baca: Trubus Soedarsono

Setelah lulus dari Institut Boedi Utomo ia melanjutkan belajarnya ke Sekolah Teknik Radio Surabaya selama 1,5 tahun dari 1940-1941.

Pada 1942 Pram bekerja sebagai tukang ketika di kantor berita Jepang bernama “Domei” yang bertempat di Jakarta.

Pada saat itu Nusantara masih berada di bawah cengkeraman Jepang.

Sehingga Jepang memiliki kantor berita tersendiri.

Semberi bekerja di Domei, Pram ikut dalam pendidikan di Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara.

Pada 1944-1945 Pram ikut kursus Stenografi dan pada 1945 ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Tinggi Islam Jakarta. (1)

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan yang dipenjara di Pulau Buru sekitar tahun 1977, menyelesaikan karya-karyanya dengan sebuah mesin tik tua.
Pramoedya Ananta Toer, sastrawan yang dipenjara di Pulau Buru sekitar tahun 1977, menyelesaikan karya-karyanya dengan sebuah mesin tik tua. (KOMPAS/SINDHUNATA)

Baca: Affandi Koesoema

  • Latihan Militer dan Dipenjara

Latihan militer

Pramoedya Ananta Toer pada 1946 ikut dalam latihan militer Tentara Keamanan Rakyat dan bergabung dengan Resimen 6 dengan pangkat letnan dua.

Ia ditugaskan di Cikampek dan kemudian kembali ke Jakarta pada tahun 1947.

Dipenjara

Pada 22 Juli 1947 Pram ditangkap oleh Belanda karena dituduh menyimpan dokumen pemberontakan melawan Belanda.

Kala itu Belanda kembali lagi ke Indonesia dan ingin berkuasa.

Pram pun dipenjara di Pulau Edam dan kemudian dipindahkan ke penjara di daerah Bukit Duri hingga tahun 1949.

Selama menjadi tahanan, Pram menghabiskan waktunya untuk menulis buku dan cerpen. (1)

Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.
Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. (KOMPAS.com/ HERU MARGIANTO)

Baca: Musso

  • Menjadi Pimpinan Pusat Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra)

Setelah keluar dari penjara, Pram bekerja sebagai redaktur di Balai Pustaka Jakarta pada 1950-1951.

Setelah itu ia mendirikan “Literary and Fitures Agency Duta”.

Tidak lama setelahnya, ia mengikuti program pertukaran budaya di Belanda.

Baca: Mayor Jenderal Achamadi

Tidak lama kemudian ia pulang ke Indonesia dan menjadi anggota Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) yang dikenal sebagai organisasi kebudayaan berhaluan kiri.

Bergabungnya Pram ke Lekra membuat para seniman dan sastrawan anti Komunis memiliki pendapat yang bersebrangan dengannya.

Pada 1958, ia didapuk menjadi pimpinan pusat Lekra (Lembaga Kesenian Jakarta) yang bernaung di bawah Partai Komunis Indonesia pimpinan D N Aidit.

Karier Pramoedya Ananta Toer semakin melejit, terlebih pada 1962 ia diangkat sebagai dosen sastra di Universitas Res Republica.

Selain itu, ia juga menjadi dosen Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai.

Dan pada saat yang sama ia juga menjabat sebagai redaktur majalah Lentera. (1)

Sastrawan, Pramoedya Ananta Toer
Sastrawan, Pramoedya Ananta Toer (KOMPAS/LASTI KURNIA)

Baca: Njoto

Ketika Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) gagal, para tokoh serta orang-orang Komunis di Indonesia diburu oleh pemerintah.

Tak terkecuali Pramoedya Ananta Toer yang merupakan pemimpin di Lekra.

Lekra sendiri merupakan lembaga di bawah naungan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sehingga ketika G30S/PKI itu gagal maka aktivis Lekra pun ikut diciduk.

Pram ditangkap dan dijeblos kan ke dalam penjara dengan tuduhan mendukung Komunis.

Ia ditahan tanpa pengadilan dari tahun 1965 hingga 1969.

Baca: Sayuti Melik

Setelah itu ia dititipkan di penjara Nusakambangan di Jawa Tengah dan kemudian ia di buang ke Pulau Buru yang terkenal sebagai pulau buangan para tahanan politik PKI.

Pram diasingkan ke Pulau Buru dari 1969 hingga 1979.

Selain itu, di sana Pram juga tidak dilarang untuk menulis, akan tetapi Pram tetap menulis dan salah satu karyanya yang terkenal ialah “Bumi Manusia”.

Setelah terbukti bahwa dirinya tidak terlibat dalam peristiwa pemberontakan PKI itu, ia pun dibebaskan pada Desember 1979.

Meski begitu ia tetap menjadi tahanan rumah di masa Orde Baru sampai dengan tahun 1992.

Setelah itu ia naik menjadi tahanan kota hingga 1999.

Hampir setengah hidupnya Pram habiskan di dalam penjara akibat hubungan dekatnya dengan PKI.

Meski di dalam penjara, Pram tetap menulis, bahkan karya-karyanya tetap hidup hingga zaman modern meski ia telah meninggal pada 2006 lalu. (1)

Pramoedya Ananta Toer saat masih muda.
Pramoedya Ananta Toer saat masih muda. (Wikipedia)

Baca: Chairil Anwar

 

1. Sepuluh Kepala Nica (1946)

2. Kranji Bekasi (1947)

3. Perburuan (1950)

4. Keluarga Gerilya (1950)

5. Mereka yang Dilumpuhkan (1951)

6. Bukan Pasar Malam (1951)

7. Di Tepi Kali Bekasi (1951)

8. Gulat di Jakarta (1953)

9. Midah, Si Manis Bergigi Emas (1954)

10. Korupsi (1954)

11. Calon Arang (1957)

12. Suatu Peristiwa di Banten Selatan (1958)

13. Bumi Manusia (1980)

14. Anak Semua Bangsa (1980)

15. Jejak Langkah (1985)

16. Gadis Pantai (1987)

17. Hikayat Siti Mariah (1987)

18. Rumah Kaca (1987)

19. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995)

20. Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1996)

21. Arus Balik (1995)

22. Arok Dedes (1999)

23. Larasati (2000)

24. Subuh (1950)

25. Percikan Revolusi (1950)

26. Cerita dari Blora (1952)

27. Cerita dari Jakarta (1957) (2)

Baca: D.N. Aidit

  • Hadiah, Anugerah dan Penghargaan

Hadiah

– Hadiah Sastra dari Balai Pustaka atas novelnya Perburuan (1950)

– Hadiah Sastra dari BMKN atas kumpulan cerpennya Cerita dari Blora (1952)

Anugerah

– Anugerah Freedom to Write Award (PEN American Centre, Amerika Serikat) (1980)

– Anugerah The Fund for Free New York, Amerika Serikat) (1992)

– Anugerah Stichting Wertheim dari negeri Belanda (1995)

– Anugerah Ramon Magsaysay dari Filipina (1995)

Penghargaan

– Penghargaan Unesco Madanjeet Singh Prize oleh Dewan Eksekutif Unesco (1996)

– Anugerah Le Chevalier de l’ordre des Arts et des Letters dari Prancis (2000) (2)

(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here