Sarwo Edhie Wibowo – Tribunnewswiki.com

0
16


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Sarwo Edhie Wibowo adalah tokoh Letjen TNI yang menumpaskan Gerakan September 1965.

Letjen Sarwo Edhie menumpas PKI di Indonesia, karena balas dendam atas meninggalnya Menteri/Panglima AD Ahmad Yani dalam peristiwa G30S/PKI.

Hal itu disebabkan, Sarwo Edhie merupakan orang kesayangan jenderal Ahmad Yani, lantas ia marah ketika Jenderal Ahmad Yani tewas terbunuh.

Ketika Orde Baru, Sarwo Edhi menjadi orang penting kemudian disingkiran Soeharto. (1) 

Baca: Ali Moertopo

Biodata Letjen Sarwo Edhie Wibowo
Biodata Letjen Sarwo Edhie Wibowo (kopassus.mil.id)

Letjen TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo merupakan ayah Ani Yudhoyono, yang melegenda di TNI khususnya Kopassus.

Ia lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 25 Juli 1925 dan meninggal dunia di Jakarta, 9 November 1989 saat berusia 64 tahun.

Sarwo Edhie memiliki seorang puti bernama Kristiani Herrawati, yang merupakan ibu negara Republik Indonesia sekaligus istri dari Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono.

Sedangkan, putranya bernama Pramono Edhie Wibowo, mantan KSAD.

Sarwo Edhie memiliki peran yang besat dalam penumpasan Pemberontakan Gerakan 30 September dalam posisinya sebagai panglima RPKAD atau disebut Kopassus.

Bahkan, ia menjabat sebagai Ketua BP-7 Pusat, Duta besar Indonesia untuk Korea Selatan serta Gubernur AKABRI. (1) (2) 

Baca: Ahmad Yani

– Komandan Batalion di Divisi Diponegoro (1945-1951)

– Komandan Resimen Divisi Diponegoro (1951-1953)

– Wakil Komandan Resimen di Akademi Militer Nasional (1959-1961)

– Kepala Staf Resimen Pasukan Komando (RPKAD) (1962-1964)

– Komandan RPKAD (1964-1967).

Kontribusi Letjen Jenderal (Purn) Sarwo Edhie Wibowo bagi Negara Republik Indonesia selama masih bertugas hingga akhir hayat. (1)

Baca: Tan Malaka

Letnan Sarwo Edhie bersama pasukannya berhasil memberantas pasukan Gerakan 30 September atau G30S.

Keberhasilan ini membuat Sarwo Edhie naik jabatan menjadi komandan RPKAD atau dikenal Kopassus.

Selain itu, ia juga diperintah oleh Soeharto sebagai Panglima Kostrad untuk merebut RRI pusat dari tangan PKI.

Perintah perebutan RRI pusat dari tangan PKI turun berjenjang dari Sarwo Edhie Wibowo ke Mayor C.I. Santoso, Lettu Feisal Tanjung dan akhirnya sampai ke prajurit Sintong Panjaitan.

RRI pun berhasil diambil alih dari kekuasaan pusat tangan PKI ke prajurit Sintong.

Miski begitu, Sintong sebelumnya mendapatkan omelan Sarwo Edhie karena adanya suatu kaset rekaman berputar yang masih terdengar. (3) 

Baca: Jenderal Soedirman

  • Berantas Gerakan G30S/PKI

Gerakan 30 September ini terjadi ketika Sarwo Edhie menjabat sebagai Komandan RPKAD.

Pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, enam jenderal, termasuk Ahmad Yani diculik dari rumah mereka dan dibawa ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

Di hari itu Sarwo Edhie dan pasukannya sedang menghabiskan waktu paginya di markas RPKAD di Cijantung, Jakarta.

Kemudian Kolonel Herman Sarens Sudiro tiba untuk mengumumkan situasi Jakarta dari markas Kostrad kepada Sarwo Edhie.

Sarwo Edhie juga diberitahu oleh Sudiro bahwa Mayor Jenderal Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Kostrad diasumsikan akan menjadi pimpinan Angkatan Darat.

Setelah memberikan banyak pemikirannya, Sarwo Edhie mengirim Sudiro kembali dengan pesan bahwa ia akan berpihak dengan Soeharto.

Setelah Sudiro pergi, Sarwo Edhie dikunjungi oleh Brigjen Sabur, Komandan Cakrabirawa.

Sabur meminta Sarwo Edhie untuk bergabung dengan Gerakan G30S/PKI.

Sarwo Edhie mengatakan kepada Sabur dengan datar bahwa ia akan memihak Soeharto.

Pada pukul 11:00 siang hari itu, Sarwo Edhie tiba di markas Kostrad dan menerima perintah untuk merebut kembali gedung RRI dan telekomunikasi pada pukul 06:00 petang.

Ketika pukul 06:00 petang tiba, Sarwo Edhie memerintahkan pasukannya untuk merebut kembali bangunan yang ditunjuk.

Hal ini dicapai tanpa banyak perlawanan, karena pasukan itu mundur ke Halim dan bangunan diambil alih pada pukul 06:30 petang.

Dengan situasi di Jakarta yang aman, mata Soeharto ternyata tertuju ke Pangkalan Udara Halim.

Pangkalan Udara adalah tempat para Jenderal yang diculik dan dibawa ke basis Angkatan Udara yang telah mendapat dukungan dari gerakan G30S.

Soeharto kemudian memerintahkan Sarwo Edhie untuk merebut kembali Pangkalan Udara.

Memulai serangan mereka pada pukul 2 dini hari pada 2 Oktober, Sarwo Edhie dan RPKAD mengambil alih Pangkalan Udara pada pukul 06:00 pagi. (1)

Baca: Soekitman

(Tribunnewswiki.com/ Husna)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here