Sidik Kertapati – Tribunnewswiki.com

0
13


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Sidik Kertapati adalah salah satu pejuang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang menjadi eksil setelah peristiwa G30S.

Sidik lahir di Klungkung Selatan, Bali, pada 1920.

Sejak muda ia sudah hidup bersama dengan rakyat kecil pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan Jepang.

Oleh karena itu, ia mengetahui nasib rakyat kecil tersebut pada masa itu.

Kepeduliannya itu membawanya aktif dalam gerakan-gerakan pemuda dalam melawan penjajah.

Organisasi pergerakan yang ia ikuti seperti Pusat Tenaga Rakyat (Putera), Angkatan Pemuda Indonesia (API), dan Gerakan Indonesia Merdeka (Gerindom).

Di Gerindom ia menjabat sebagai Dewan Eksekutif sehingga memiliki posisi yang bisa menggerakkan massa.

Melalui Gerindom itu pula ia mulai membangun gerakan bawah tanah bersama pemuda revolusioner antifasis dengan massa tani, buruh, mahasiswa, pegawai kantor, dan angkatan bersenjata.

Tokoh muda lain di Gerindom yang bersinar adalah Chaerul Saleh dan Wikana.

Selain itu, ia juga terlibat dalam persiapan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. (1)

Istri Sidik Kertapati, Siti Rukiah Kertapati sastrawan besar Indonesia yang namanya sengaja dilupakan dan dihapus dari sejarah.
Istri Sidik Kertapati, Siti Rukiah Kertapati sastrawan besar Indonesia yang namanya sengaja dilupakan dan dihapus dari sejarah. (KELUARGA RUKIAH KERTOPATI)

Baca: Wikana

Menjelang Proklamasi 17 Agustus 1945, Sidik bergabung dalam organisasi Angkatan Pemuda Indonesia (API).

Di API ia bersama para pemuda lainnya seperti Aidit, Sidik Kertapati, Darwis, Suroto Kunto, AM Hanafie, Djohar Nur, Subadio, Sukarni, Wikana, Chaerul Saleh, dan yang lainnya mulai mempersiapkan proklamasi kemerdekaan.

Mereka menghubungi jaringan-jaringan yang berada di bawah tanah guna mempersiapkan kekuatan rakyat.

Kekuatan rakyat itu disiapkan untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi berkaitan dengan proklamasi kemerdekaan. (1)

Baca: D.N. Aidit

  • Mempertahankan Kemerdekaan

Sidik dan para pemuda revolusioner berhasil mengumpulkan 200.000 orang di Lapangan Ikada Jakarta pada 19 September 1945.

Rakyat sebanyak itu berkumpul hanya untuk mendengarkan pidato Soekarno yang durasinya hanya 10 menit.

Meski begitu, rakyat begitu menantikannya lantaran hal itu dalam rangka mendukung kemerdekaan Indonesia yang telah diumumkan.

Usai acara itu, pada 20 September 1945 Sidik bersama para tokoh pemuda lainnya ditangkap oleh Jepang dan dijebloskan ke penjara di Kempetai.

Akan tetapi, akhirnya mereka bisa meloloskan diri dan melanjutkan perjuangannya.

Saat Belanda kembali masuk ke Indonesia, Sidik Kertapati bergabung dengan Laskar Rakyat Djakarta Raya (LKDR).

Pada November 1946, Laskar Rakyat Djakarta Raya dan organisasi laskar-laskar lainnya menyatukan diri menjadi Laskar Rakyat Djawa Barat (LKDB) dan Sidik terpilih sebagai pimpinan organisasi bersama dengan Astrawinata dan Armunanto.

LKDB menolak Perjanjian Renville dan memutuskan untuk bergeriliya di hutan-hutan Jawa Barat.

Selama bergeriliya, Sidik Kertapati sempat terkena peluru musuh.

Pada tahun 1949, Sidik Kertapati bergabung dengan Sarekat Kaum Tani Indonesia (SAKTI) dan menjadi ketua dari tahun 1949 sampai dengan tahun 1954 saat SAKTI melebur dengan Barisan Tani Indonesia. (2)

Buku karya Sidik Kertapati
Buku karya Sidik Kertapati (Bukalapak)

Baca: Njoto

Sidik Kertapati melanjutkan perjuangan politiknya dengan menjadi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Ia adalah anggota parlemen independen yang terkenal dengan “mosi Sidik Kertapati” yang menggugat kebijakan menteri dalam negeri Mr. Mohamad Roem dalam peristiwa Tanjung Morawa di Sumatra Utara pada 16 Maret 1953.

Akibat dari mosi tersebut, Kabinet PM Wilopo pun meletakkan jabatan pada 2 Juni 1953. (1)

Baca: Chaerul Saleh

Pasca terjadinya Gerakan 30 September 1965 atau G30S, Sidik ikut terkena imbasnya.

Hal ini lantaran aktivitas politiknya di Barisan Tani Indonesia (BTI) berkaitan dengan PKI.

Ia pun menjadi eksil selama puluhan tahun dan tinggal di Belanda.

Pilihan meninggalkan Indonesia ia lakukan untuk menghindari penangkapan pada masa Orde Baru.

Akibatnya, ia juga harus berpisah dengan istrinya, Siti Rukiah.

Sidik baru bisa kembali ke Indonesia pada 2002 dengan dibantu para mahasiswa.

Pada 12 Agustus 2007 ia meninggal dunia di usia 87 tahun.

Ia meninggal masih dalam status kewarganegaraan Belanda. (1)

(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here