Siswondo Parman – Tribunnewswiki.com

0
3


(Upload Pagi)

TRIBUNNEWSWIKI.COM- Letnan Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman atau S. Parman adalah salah satu pahlawan revolusi Indonesia yang terbunuh pada peristiwa G30S/PKI.

Ia merupakan tokoh militer Indonesia yang bergelar Letnan Jenderal Anumerta.

S. Parman dimakamkan di TMP Kalibata Jakrta. (1) 

Baca: Ahmad Yani

Pahlawan Revolusi Letna Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman
Pahlawan Revolusi Letna Jenderal TNI Anumerta Siswondo Parman 

S. Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918.

Ayahnya bernama Kromodihardjo dan kakaknya bernama Ir.Sakirman.

Ir.Sakirman merupakan petinggi di Partai Komunis Indonesia (PKI)

S. Parman merupakan alumnus dari sekolah tinggi di Kota Bandung pada 1940, dan lanjut ke sekolah kedokteran.

Namun, ia tidak sempat menyelesaikan pendidikannya karena Jepang lebih dulu datang menjajah Indonesia.

Pada saat itu, S. Parman bekerja untuk polisi militer Kempetai Jepang.

Ia pun ditangkap karena Jepang meragukan kesetiaan dari S. Parman, kemudian dibebaskan.

Setelah bebas, S. Parman dikirim ke Jepang untuk melakukan pelatihan intelijen dan diminta bekerja lagi untuk Kempeitai. (2)  (3) 

Baca: Letnan Kolonel Untung

Karier S. Parman bermula saat melakukan pertemuan dengan pasukan Jepang yang bergerak ke beberapa kota di Jawa Tengah.

Pada saat itu, pasukan Jepang sedang membutuhkan penerjemah, sehingga S. Parman pun dibawa Kempeitai (polisi militer Jepang) ke Yogyakarta.

Kemudian, ia diangkat sebagai perwira sipil Kempeitai.

Setelah itu, ia menjadi kepala staf untuk gubernur militer Jabodetabek serta menjadi mayor.

Pada masa jabatannya, ia berhasil menggagalkan plot oleh “Hanya Raja Angkatan Bersenjata” Angkatan Perang Ratu Adil atau APRA, kelompok pemberontak yang dipimpin Raymond Westerling.

Saat itu, APRA berencana untuk membunuh komandan menteri pertahanan dan angkatan bersenjata.

Pada 1951, S. Parman dikirim ke Sekolah Polisi Militer di Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan lebih lanjut. 11 November 1951, S. Parman diangkat menjadi komandan Polisi Militer Jakarta.

Kemudian, S. Parman menduduki sejumlah posisi di Polisi Militer Nasional dan Departemen Pertahanan Indonesia sebelum dikirim ke London sebagai atase militer Kedutaan Indonesia.

Pada 28 Juni, dengan pangkat Mayor Jenderal, S. Parman diangkat menjadi asisten pertama dengan tanggung jawab untuk intelijen untuk Kepala Staf Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani. (2)

Baca: Letnan Komarudin

S. Parman mempunyai kebiasan setiap malam Jumat, ia tidak tidur sebelum pukul 24.00.

Sebelum diculik pada 30 September 1965, ia dan istrinya selalu dikejutkan dengan banyak burung gereja dan burung sriti di kamar tamu.

Pukul 04.00, sejumlah kendaraan truk yang berisi prajurit Tjakra itu pun membangunkan S. Parman dan istrinya.

Salah satu prajurit Tjakra mengatakan kepada S. Parman, jika keadaan negara sedang genting.

Sumirahayu yang curiga bahkan sempat menanyakan surat perinyah dan identitas si penjemput.

Saat keluar rumah, Siswondo Parman kaget lantaran banyak prajurit Tjakra di halaman.

Parman pun memerintahkan Sumirahayu menghubungi Menpangad Letjen Ahmad Yani namun smabungan telepon rumah telah diputus.

Tak hanya burung gereja dan burung sriti, sebelum meninggal dunia, Parman juga berpesan agar dimakamkan di TMP Kalibata jika dirinya wafat.

Parman bahkan meminta agar batu nisannya nanti bertuliskan ‘Pejuang Sejati’. (3)

Baca: Tan Malaka

(Tribunnewswiki.com/ Husna)

 

 

 



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here