Siti Rukiah Kertapati – Tribunnewswiki.com

0
11


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Siti Rukiah Kertapati adalah sastrawan Indonesia yang namanya dihilangkan setelah peristiwa G30S.

Siti Rukiah lahir pada 25 April 1927.

Ia belajar di Sekolah Rendah Gadis.

Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru (CVO) selama dua tahun.

Siti Rukiah juga aktif di dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

Pada masa itu, Siti Rukiah menjadi salah satu penulis sastra yang disegani di Indonesia.

Bahkan karyanya yang berjudul Tandus berhasil memenangkan Hadiah Sastra Nasional BMKN pada 1952.

Namun, karya-karyanya dihilangkan Gerakan 30 September meletus tahun 1965. (1)

Buku Tandus karya Siti Rukiah Kertapati
Buku Tandus karya Siti Rukiah Kertapati (Shopee)

Baca: Sidik Kertapati

Siti Rukiah Kertapati mengawali kariernya dengan menjadi guru di Sekolah Rendah Gadis Purwakarta.

Pada saat yang sama ia juga menjadi sekretaris redaksi di majalah Pujangga Baru dan majalah Bintang Timur bersama dengan Pramoedya Ananta Toer.

Selain itu, ia juga pernah bekerja di majalah pendidikan anak-anak, Cendrawasih.

Kemudian pada 1959 ia bergabung menjadi anggota Pimpinan Pusat Lekra.

Kala itu kariernya di dunia tulis-menulis makin melejit.

Ia berhasil menghasilkan beberapa karya tulis seperti Si Rawun dan Kawan-kawannya (1955), Teuku Hasan Johan Pahlawan (1957), Jaka Tingkir (1962), Dongeng-Dongeng Kutilang (1962), Kisah Perjalanan Si Apin (1962), Taman Sanjak Si kecil (1959), Kejatuhan dan Hati (1950), dan Tandus (1952″. (1)

Baca: Pramoedya Ananta Toer

Setelag peristiwa G30S, keluarga Siti Rukiyah menjadi berantakan.

Hal ini tidak lepas dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang ia ikuti.

Pemerintah mengumumkan bahwa karya-karya miliknya sebagai karya terlarang.

Kemudian ia ditahan di kompleks Corps Polisi Militer (CPM) Purwakarta dan rutan di Bandung.

Siti Rukiah harus berpisah dengan anak dan suaminya meski akhirnya bisa kembali lagi ke rumahnya.

Namun, ia berada dalam pengawasan aparat setempat.

Walaupun sudah sampai di rumah, ia tidak bisa bertemu dengan suaminya, Sidik Kertapati .

Sidik merupakan ketua di Barisan Tani Indonesia (BTI) sehingga nasibnya tidak jauh berbeda dengan sang istri.

Setelah G30S, suami Siti Rukiyah pergi meninggalkan Indonesia dan menjadi eksil.

Sidik menjadi eksil agar terhindar dari kejaran pemerintahan Orde Baru di Indonesia.

Setelah Orde Baru runtuh, pada 2002 Sidik baru bisa kembali ke Indonesia dengan dibantu para mahasiswa.

Ketika kembali ke Indonesia, sang istri telah meninggal dunia.

Oleh karena itu, setelah peristiwa G30S keduanya tidak pernah bertemu sama sekali. (2) (3)

Sidik Kertapati suami Siti Rukiah
Sidik Kertapati suami Siti Rukiah (Kompasiana)

Baca: Affandi Koesoema

– Si Rawun dan kawan-kawannya (1955)

– Teuku Hasan Johan Pahlawan (1957)

– Jaka Tingkir (1962)

– Dongeng-dongeng Kutilang (1962)

– Kisah perjalanan Si Apin (1962)

– Taman sanjak si kecil (1959)

– Kejatuhan dan Hati (1950)

– Tandus (1952) (1)

(TribunnewsWiki.com/Bangkit N)

 



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here